Pinjaman Online Meroket, Mahasiswa dan Fresh Graduate Paling Rentan

Date:

DCNews, Bandung — Akses ke layanan pinjaman online (pinjol) yang makin mudah di era digital mendorong lonjakan peminjaman di kalangan mahasiswa dan lulusan baru. Namun, saat kemudahan bertumbuh cepat —pemahaman atas literasi, risiko, dan perencanaan keuangan justru tertinggal. Akibatnya, generasi muda berpotensi terperangkap dalam jeratan utang dan gagal bayar.

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa outstanding pinjaman daring nasional telah melonjak tajam: per Agustus 2025 total utang pinjol masyarakat mencapai Rp 87,61 triliun, naik 21,62 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, pinjaman daring didominasi oleh kelompok usia 19–34 tahun —generasi milenial dan Gen Z— dengan total outstanding cukup besar.

Meski penetrasi layanan keuangan digital sangat tinggi —alias inklusi keuangan makin luas— tingkat literasi finansial di Indonesia masih relatif rendah: survei nasional pada 2022 menunjukkan indeks literasi keuangan di angka sekitar 49,68 persen.

Tak heran jika banyak pengguna muda layanan pinjaman daring yang tidak menyadari risiko: utang membengkak, bunga membebani, hingga potensi gagal bayar. Data OJK per 2025 menunjukkan bahwa rasio kredit macet (non-performing financing / TWP90) di industri pinjaman daring telah meningkat, mencapai 2,93 persen.
Selain itu, analisis menunjukkan bahwa sebagian besar kredit macet dicatat di kalangan usia produktif 19–34 tahun.

IA-SBM ITB, melalui Ketua Umumnya Novrizal Pratama, menilai bahwa kesenjangan antara akses keuangan digital dan literasi ini adalah sumber utama permasalahan. Banyak mahasiswa dan fresh graduate mudah mendapatkan pinjaman, tapi tak memiliki bekal untuk mengelola risiko, merencanakan anggaran, atau mengenali layanan legal dan ilegal.

“Pengelolaan keuangan bukan hanya soal menabung. Fresh graduate harus mampu membedakan layanan legal dan ilegal, memahami perencanaan, serta menghitung risiko. Jika salah langkah, mereka bisa masuk ke jeratan pinjol ilegal ataupun gagal bayar,” ujar Novrizal, Senin (1/12/2025).

Novrizal menyerukan agar kampus, alumni, dan industri ikut berperan aktif, bukan sekadar sebagai penyambung akses ke kredit tapi juga sebagai fasilitator literasi dan pendampingan keuangan. Tanpa edukasi yang tepat, kemudahan finansial bisa berubah jadi beban jangka panjang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa fintech dan layanan keuangan digital, meskipun memiliki potensi besar dalam meningkatkan inklusi keuangan, terutama bagi kelompok muda, juga membawa tanggung jawab besar bagi regulator, institusi pendidikan, dan masyarakat luas. Tanpa literasi dan manajemen risiko yang baik, akses mudah bisa berbalik menjadi jebakan utang. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Diduga Debt Collector Leasing Rampas Mobil Warga di Gorontalo, Polisi Amankan Satu Unit Kendaraan

DCNews, Gorontalo — Aparat Polsek Mananggu, Kabupaten Pohuwato, mengamankan satu...

Aria Bima Tegaskan Pilkada Langsung Amanat Konstitusi yang Tak Bisa Ditawar

DCNews, Jakarta — Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari...

Gugatan ke MK: Celah Persetujuan Data Pribadi Dinilai Picu Penyalahgunaan Pinjol

DCNews, Jakarta— Ketika negara berupaya membangun perlindungan data pribadi...

Desa Pondasi Bangsa, Habib Aboe: Harus Jadi Subjek Pembangunan

DCNews, Jakarta — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai...