DCNews, Jakarta — Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian global. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,04% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2025 –sedikit di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan 5%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menyampaikan bahwa nilai PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp6.060 triliun pada periode Juli–September 2025.
“Angka ini menunjukkan momentum pemulihan ekonomi yang tetap terjaga di tengah kondisi global yang masih bergejolak,” ujarnya, Rabu (5/11/2025).
Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan proyeksi konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, yang memperkirakan ekonomi hanya tumbuh 5% yoy. Dengan demikian, Indonesia tetap menjadi salah satu negara dengan kinerja ekonomi paling solid di kawasan Asia Tenggara.
Unggul dari Singapura, Kalah Tipis dari Malaysia
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, ekonomi Indonesia masih mencatat performa relatif kuat. Di Asia Tenggara, Indonesia mengungguli Singapura, yang hanya tumbuh 2,9% yoy pada kuartal III-2025—melambat tajam dari kuartal sebelumnya sebesar 4,5%.
Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menjelaskan, sektor manufaktur di negara tersebut mendatar (0,0% yoy) akibat penurunan produksi di bidang biomedikal dan klaster industri lainnya.
Namun, Indonesia kalah tipis dari Malaysia, yang mencatat pertumbuhan ekonomi 5,2% yoy pada periode yang sama. Data awal (advance estimate) dari Departemen Statistik Malaysia menunjukkan bahwa semua sektor tumbuh solid, didorong oleh permintaan domestik dan investasi yang berkelanjutan.
“Investasi sumber daya yang berkelanjutan serta peningkatan permintaan eksternal mendukung ekspansi ekonomi di tengah ketidakpastian perdagangan global,” ujar Mohd Uzir Mahidin, Kepala Perangkawan Malaysia.
Thailand dan Filipina Masih Lesu
Sementara itu, Thailand baru akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 pada 17 November mendatang. Namun, Bank of Thailand (BoT) mengindikasikan perlambatan aktivitas ekonomi, terutama karena penurunan produksi manufaktur dan melemahnya investasi domestik.
Situasi serupa juga dialami Filipina. Bank Sentral Filipina (BSP) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara tersebut akan melambat dari 5,5% yoy pada kuartal sebelumnya. “Perlambatan ini mencerminkan menurunnya keyakinan dunia usaha terhadap efektivitas belanja infrastruktur pemerintah,” tulis pernyataan BSP.
Lebih Kuat dari China yang Melambat
Di tingkat regional Asia, Indonesia juga mencatat kinerja lebih baik dibandingkan China. Negeri Tirai Bambu tumbuh 4,8% yoy pada kuartal III-2025, melambat dari kuartal sebelumnya sebesar 5,2%.
Menurut laporan ING Research, perlambatan ekonomi China sudah diantisipasi pasar. Produksi industri naik 6,5% pada September, namun konsumsi masyarakat hanya tumbuh 3%, sementara investasi turun 0,5% yoy.
“Data menunjukkan bahwa pertumbuhan China tahun ini cukup solid untuk mencapai sekitar 5%, namun tekanan dari sisi konsumsi masih menjadi tantangan utama,” tulis riset tersebut.
Analisis: Momentum Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga
Meski menghadapi ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan fundamental yang sehat. Pertumbuhan stabil di atas 5% menunjukkan kombinasi permintaan domestik yang kuat, stabilitas harga, serta kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi.
Dengan capaian ini, Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu ekonomi paling resilien di Asia Tenggara, bahkan ketika negara lain seperti Singapura dan China mulai kehilangan momentum.
Namun, tantangan ke depan masih besar — mulai dari pelemahan ekspor akibat perlambatan global hingga potensi gejolak harga komoditas menjelang 2026. Pemerintah diharapkan menjaga momentum pertumbuhan dengan memperkuat investasi produktif, stabilitas makroekonomi, serta inovasi industri dalam negeri. ***

