ECNews, Jakarta — Gelombang tekanan ekonomi global kembali menghantam industri ekspor udang nasional. PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), produsen udang beku yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, mengonfirmasi telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 132 karyawan dan mengalami keterlambatan pembayaran gaji, imbas dari kian beratnya pasar ekspor ke Amerika Serikat (AS).
Corporate Secretary PMMP Christian Jonathan Sutanto menjelaskan, langkah efisiensi itu tak terelakkan setelah ekspor ke AS anjlok akibat tarif anti-dumping yang diberlakukan sejak 2024. Kondisi memburuk pada awal 2025 ketika pemerintah AS kembali mengenakan tarif resiprokal tambahan sebesar 19 persen, menekan margin keuntungan dan kapasitas produksi perusahaan.
“Penjualan ke AS turun signifikan dan berdampak langsung pada penurunan kapasitas produksi. Karena itu, perusahaan melakukan efisiensi biaya, salah satunya melalui rasionalisasi 58 karyawan bulanan dan 74 karyawan harian,” kata Christian dalam keterangannya, Rabu (22/10/2025).
Christian mengakui, lesunya pasar global juga mempersempit arus kas perusahaan. Akibatnya, pembayaran gaji dan hak-hak pekerja yang terdampak rasionalisasi baru bisa dilakukan sebagian.
“Sisa tunggakan akan dibayarkan secara bertahap sampai lunas,” ujarnya menegaskan.
Upaya Bertahan di Tengah Tekanan Ekspor
PMMP saat ini mengoperasikan tujuh fasilitas produksi di Situbondo, Jawa Timur. Sebagai langkah bertahan, perusahaan berencana menyewakan salah satu unit pabrik kepada PT Landangan Makmur Situbondo dengan sistem bagi hasil. Strategi ini diharapkan dapat menambah arus pendapatan sekaligus menjaga aktivitas ekonomi lokal yang menjadi tumpuan masyarakat di wilayah Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
Selain tekanan tarif, kinerja ekspor juga terganjal aturan baru dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat yang mewajibkan sertifikat bebas radioaktif (Cesium-137) untuk produk perikanan dari Jawa dan Lampung. PMMP menyatakan siap mematuhi ketentuan tersebut, namun proses uji teknis masih menunggu hasil evaluasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kerugian Menajam, Laporan Keuangan 2024 Belum Rilis
PMMP hingga kini belum merilis laporan keuangan tahunan 2024. Berdasarkan laporan terakhir per kuartal III-2024, perusahaan mencatat rugi bersih sebesar US$15,26 juta atau sekitar Rp240,07 miliar, berbalik tajam dari posisi laba US$5,29 juta pada periode sama tahun sebelumnya.
Merujuk laporan keuangan itu, penjualan neto perusahaan anjlok 57,99 persen menjadi US$63,37 juta, dari sebelumnya US$150,86 juta. Penjualan udang vannamei sebagai produk utama merosot 58,1 persen, sementara udang black tiger anjlok 73,78 persen. Segmen penjualan lain juga turun hampir 46,5 persen secara tahunan.
Tekanan biaya makin memperburuk kondisi. Beban penjualan tercatat US$62,32 juta, membuat laba bruto ikut tergerus 96,21 persen menjadi hanya US$1,05 juta, jauh di bawah US$27,73 juta pada tahun sebelumnya.
PMMP merupakan salah satu eksportir udang besar asal Jawa Timur yang menjadi tulang punggung ekspor perikanan Indonesia ke AS. Perusahaan ini sempat mencuri perhatian publik karena afiliasinya dengan Kaesang Pangarep, yang kini menjadi bagian dari jejaring bisnis pangan dan agrikultur nasional.
Kondisi PMMP mencerminkan tekanan besar yang dialami industri ekspor Indonesia di tengah perang tarif dan kebijakan proteksionis global yang kian agresif. ***

