DCNews.com, Sintang – Psikolog Puskesmas Sungai Durian, Nabilla Dwi Ulfa, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bahaya jeratan judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) yang semakin marak. Ia menyebut, dua hal ini memiliki pola kerja psikologis yang mirip, yakni menciptakan rasa kemenangan semu di awal agar korban terus terjebak dalam lingkaran candu.
“Memang di awal cara kerja pinjol dan judol ini dimenangkan. Itu untuk mendapatkan reward, need of achievement-nya dikasih. Seperti ketika kita main game, lalu dimenangkan di awal. Maka muncul perasaan ‘oh aku menang, aku bisa’. Nah, dari situlah rasa kecanduan mulai terbentuk,” jelas Nabilla saat ditemui di Puskesmas Sungai Durian, Rabu (15/10/2025).
Menurut Nabilla, sistem ini dirancang agar pengguna terus merasa ingin mengulangi pengalaman menang tersebut. Setelah mengalami kemenangan besar di awal, seseorang akan terdorong untuk terus bermain atau meminjam, dengan harapan mendapatkan hasil serupa.
“Di awal itu memang judol dan pinjol sistemnya akan kasih kemenangan yang sangat besar. Supaya ada adiksi yang kuat dan tingkat kesenangannya tinggi,” tambahnya.
Ia menegaskan, pola ini sangat berbahaya karena menyerang aspek psikologis, khususnya rasa percaya diri dan dopamin otak yang terkait dengan kesenangan. “Ada perasaan mau mengulang itu terus. Padahal di baliknya ada jeratan finansial dan stres berat yang bisa muncul,” kata Nabilla.
Nabilla pun mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan tidak mudah tergiur dengan tawaran kemenangan instan atau pinjaman cepat. Ia menekankan pentingnya edukasi sejak dini tentang literasi keuangan dan dampak psikologis dari perilaku konsumtif digital. ***

