DCNews, Jakarta — Lapisan masyarakat kelas menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, kini menghadapi tekanan finansial yang kian berat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, cicilan yang terus menumpuk, serta stagnasi pendapatan membuat kelompok ini berada di persimpangan antara bertahan dan jatuh miskin.
Demikian diungkap Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad melalui keterangan tertulisnya, Rabu (8/10/2025).
Lebih ironis lagi, menurut Tauhid, mayoritas kelas menengah tidak termasuk penerima bantuan sosial pemerintah, namun juga belum cukup mapan untuk memperoleh akses pembiayaan formal. Akibatnya, banyak yang mulai menguras tabungan atau bergantung pada pinjaman online (pinjol) demi menutup kebutuhan sehari-hari.
“Meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan pinjol mencerminkan makin terimpitnya kondisi ekonomi kelas menengah,” kata Tauhid lagi.
Bahkan, sambung Tauhid, kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) trennya justru menurun, sementara pinjaman online naik tajam. “Walaupun rasio kredit macet (NPL) pinjol masih di bawah 3 persen, lonjakan penggunaannya menunjukkan kelas menengah semakin sulit menjaga keseimbangan keuangannya,” ujarnya.
Menurutnya, pinjaman yang dulu digunakan untuk modal usaha kini banyak dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi dasar seperti makanan, transportasi, hingga pendidikan anak. Artinya, ruang untuk investasi atau pengembangan usaha sudah sangat terbatas.
Tabungan Kian Menyusut
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkuat sinyal pelemahan daya tahan ekonomi kelas menengah. Pertumbuhan tabungan di bawah Rp100 juta menurun tajam dari 26,3 persen pada 2016–2019 menjadi hanya 11,9 persen pada 2021–2024. Tren serupa juga terjadi pada tabungan senilai Rp100–200 juta, yang turun dari 29,4 persen menjadi 13,3 persen.
“Daya tahan kelas menengah terhadap guncangan ekonomi makin melemah. Simpanan mereka stagnan, bahkan cenderung menurun. Itu tanda kemampuan bertahan hidup yang terus terkikis,” jelas Tauhid.
Konsumsi Beralih ke Kebutuhan Pokok
Perubahan perilaku konsumsi juga menunjukkan tekanan finansial yang nyata. Porsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan meningkat signifikan, sementara pengeluaran non-pokok—seperti rekreasi, gaya hidup, dan investasi pendidikan—tertekan.
“Kalau pengeluaran makanan naik, berarti ruang untuk kebutuhan lain menyusut. Padahal, konsumsi non-makanan biasanya menjadi indikator utama kesejahteraan kelas menengah,” kata Tauhid.
Tren ini menegaskan satu hal: kelas menengah Indonesia kini bukan sedang berkembang, melainkan berjuang untuk bertahan di tengah gelombang tekanan ekonomi yang belum mereda. ***

