DCNews, Paris — Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu resmi mengundurkan diri pada Senin (6/10/2025), hanya sehari setelah Presiden Emmanuel Macron mengumumkan kabinet barunya yang langsung memicu gelombang kritik dari oposisi dan bahkan sebagian pendukungnya sendiri.
Langkah mengejutkan itu menandai babak baru dalam krisis politik berkepanjangan di Paris, memperdalam ketidakpastian yang kini turut mengguncang pasar keuangan Eropa.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun melonjak sembilan basis poin menjadi 3,6%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas politik. Premi pinjaman Prancis atas utang Jerman — indikator utama risiko fiskal — melebar hingga lebih dari 89 basis poin, level tertinggi sejak akhir 2024.
Macron sebelumnya mempertahankan sebagian besar wajah lama dalam kabinet barunya yang diumumkan Minggu lalu, sebuah keputusan yang langsung diserang oleh oposisi karena dianggap mengabaikan tuntutan perubahan.
Pemimpin Partai Sosialis, Olivier Faure, menilai pemerintahan Macron telah kehilangan legitimasi.
“Kita sedang menyaksikan krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya beberapa jam sebelum Lecornu mengumumkan pengunduran dirinya.
Lecornu menghadapi tantangan yang sama seperti dua pendahulunya: meloloskan rancangan anggaran yang mencakup pemotongan belanja publik dan kenaikan pajak di parlemen yang terbelah tajam. Kebijakan itu dinilai penting untuk menekan defisit terbesar di kawasan euro, tetapi berisiko memicu resistensi sosial yang luas.
Sebelumnya, dua perdana menteri Macron juga tumbang karena isu serupa. François Bayrou mundur bulan lalu setelah kalah dalam mosi tidak percaya, sementara Michel Barnier terdepak Desember lalu usai gagal mempertahankan dukungan atas rencana pemotongan anggaran.
Krisis Politik Perburuk Keuangan
Analis pasar memperingatkan, krisis politik ini berpotensi memperburuk tekanan terhadap keuangan Prancis.
“Situasi saat ini bisa menyeret negara menuju Pemilu baru, dan dalam skenario itu, selisih imbal hasil kemungkinan menembus 100 basis poin,” kata Vincent Juvyns, Kepala Strategi Investasi ING di Brussels.
Sementara itu, Ketua Partai National Rally, Jordan Bardella, mendesak Presiden Macron untuk segera membubarkan Majelis Nasional.
“Tidak akan ada stabilitas tanpa Pemilu ulang,” tegasnya kepada wartawan di Paris. ***

