Survei YouGov: 54% Warga RI Ambil Pinjaman, Emas Jadi Investasi Andalan

Date:

DCNews, Jakarta – Tekanan biaya hidup yang terus meningkat mendorong masyarakat Indonesia untuk beradaptasi secara finansial. Laporan terbaru YouGov menunjukkan perubahan signifikan dalam cara publik menabung, berutang, dan berinvestasi, di tengah kondisi ekonomi yang stagnan dan ketidakpastian makro.

Survei daring terhadap 2.067 responden dewasa mewakili populasi online nasional mengungkap kecenderungan masyarakat bersikap lebih hati-hati dan digital-savvy dalam mengelola keuangan pribadi. Temuan ini merekam denyut ekonomi rumah tangga yang kini lebih selektif, realistis, dan mengedepankan stabilitas.

“Laporan ini menunjukkan bahwa meski tekanan ekonomi kian terasa, optimisme masih bertahan. Banyak responden mengambil langkah konkret agar tetap bertahan secara finansial,” ujar Edward Hutasoit, General Manager YouGov Indonesia, dikutip DCNews, Rabu (25/6/2025).

Ketidakpastian Ekonomi Ubah Prioritas Keuangan

Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional turut membentuk perilaku finansial masyarakat. Dalam studi makroekonomi terpisah yang dilakukan YouGov pada April 2025, sebanyak 66 persen responden menyebut ekonomi sebagai sumber kekhawatiran utama. Angka ini terus meningkat sepanjang tahun.

Isu kebijakan nasional menyusul dengan tingkat kekhawatiran 53 persen, disusul ketakutan akan keamanan pekerjaan yang melonjak hingga 44 persen pada Februari 2025.

“Kondisi makro ini menjadi latar penting dalam memahami lonjakan penggunaan kredit, melemahnya tren menabung, serta meningkatnya permintaan terhadap instrumen investasi yang lebih stabil,” jelas Edward.

Pinjaman Jadi Taktik Bertahan

Dalam 12 bulan terakhir, lebih dari separuh responden (54 persen) mengaku mengambil pinjaman sebagai upaya menyeimbangkan tekanan pengeluaran. Generasi Milenial dan Gen X tercatat sebagai kelompok tertinggi, masing-masing 59 persen dan 58 persen.

Sumber pinjaman digital dan informal mendominasi. Sebanyak 36 persen responden mengaku kian sering memanfaatkan pinjaman online, atau bahkan menjual barang berharga untuk menutup kebutuhan harian.

Selain itu, penggunaan kredit bank meningkat hingga 28 persen, disusul layanan paylater (27 persen), serta pinjaman dari keluarga atau teman (27 persen). Fenomena ini mencerminkan strategi keuangan darurat yang mulai menjadi kebiasaan baru.

Emas Masih Jadi Investasi Favorit

Di tengah volatilitas ekonomi, masyarakat beralih ke aset yang lebih aman. Emas muncul sebagai instrumen investasi paling diminati, dengan 47 persen responden memilihnya. Generasi Milenial menjadi kelompok paling dominan yang memilih emas dan produk berisiko rendah.

Sementara itu, Gen Z menunjukkan kecenderungan lebih agresif, dengan 34 persen memilih pasar modal—persentase tertinggi dibanding generasi lain.

Preferensi investasi juga sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Responden dengan penghasilan di atas Rp20 juta per bulan lebih condong ke emas (72 persen), pasar modal (60 persen), dan properti (43 persen). Sementara kelompok berpenghasilan rendah menghindari risiko dan lebih memilih aset konvensional. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kang Dahlan Sebut Program Literasi Keuangan OJK Penting untuk Stabilitas Ekonomi Masa Depan

DCNews, Jakarta — Di tengah meningkatnya kompleksitas ekonomi digital...

OJK: Literasi Keuangan Harus Masuk Kurikulum Demi Masa Depan Finansial Anak Muda

DCNews, Jakarta — Di tengah derasnya arus informasi finansial...

Standar Kinerja Tinggi ala Prabowo: Fahri Hamzah Ungkap Tekanan Hasil Nyata di Dalam Kabinet

DCNews, Jakarta — Di balik ritme kerja pemerintahan yang...

Market Brief 18 April 2026: Emas Stabil, Minyak Menguat, Nasdaq Cetak Rekor Baru Berturut-turut

DCNews, Jakarta – Pasar keuangan global pada Sabtu ini...