DCNews, Jakarta – Pergerakan pasar keuangan global pada Senin, 18 Mei 2026, dibuka dengan sentimen campuran setelah investor mencermati lonjakan inflasi Amerika Serikat, ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Aset safe haven seperti emas masih berada dalam tekanan, sementara harga minyak mentah bertahan tinggi akibat kekhawatiran gangguan pasokan global. Di sisi lain, pasar saham teknologi AS, khususnya Nasdaq, mulai kehilangan momentum reli setelah imbal hasil obligasi AS kembali naik.
Gold (XAU/USD)
Harga emas dunia bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah setelah dolar AS menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali muncul. Emas spot berada di kisaran US$4.652 per troy ounce usai mencatat penurunan mingguan sekitar 1,7 persen. Investor kini mengurangi eksposur terhadap emas karena imbal hasil obligasi AS meningkat tajam.
Tekanan terhadap emas juga datang dari meredanya permintaan fisik di Asia, termasuk India yang menaikkan tarif impor emas. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor penahan pelemahan lebih dalam.
Oil (Brent & WTI)
Harga minyak mentah tetap berada di level tinggi seiring belum meredanya konflik di Timur Tengah dan gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz. Brent crude diperdagangkan di atas US$107 per barel, sedangkan WTI mendekati US$100 per barel.
Pasar khawatir pengetatan suplai minyak global akan mendorong inflasi lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin yakin The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
EUR/USD
Pasangan mata uang EUR/USD masih berada dalam tren bearish dan bergerak di area 1.16 setelah dolar AS menguat dalam lima hari perdagangan terakhir. Pelaku pasar menilai data inflasi AS yang tinggi memperkecil peluang pemangkasan suku bunga tahun ini.
Meski Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan tetap agresif menaikkan suku bunga, tekanan jangka pendek terhadap euro masih cukup besar selama dolar AS mempertahankan penguatan.
GBP/USD
Poundsterling terhadap dolar AS turut tertekan akibat kombinasi penguatan greenback dan ketidakpastian politik di Inggris. GBP/USD bergerak melemah setelah investor menyoroti dinamika politik internal pemerintahan Inggris yang meningkatkan kekhawatiran pasar.
Selain faktor politik, lonjakan yield obligasi AS juga membuat aliran modal global kembali mengarah ke aset berbasis dolar.
USD/JPY
USD/JPY masih bergerak menguat seiring kenaikan yield US Treasury dan perbedaan kebijakan moneter antara The Fed dan Bank of Japan (BoJ). Yen Jepang masih berada di bawah tekanan karena BoJ dinilai belum cukup agresif dalam menaikkan suku bunga.
Volatilitas pasangan mata uang ini diperkirakan meningkat menjelang risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini.
Nasdaq
Indeks Nasdaq mulai terkoreksi setelah reli sektor teknologi kehilangan tenaga akibat lonjakan yield obligasi AS. Saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) sebelumnya menjadi pendorong utama kenaikan Wall Street, namun investor kini mulai melakukan aksi ambil untung.
Tekanan terhadap Nasdaq juga dipicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan menekan valuasi saham teknologi dalam jangka menengah. Meski demikian, optimisme terhadap sektor AI masih menjadi penopang utama pasar saham AS.
Analisis Dahlan Consultant: Pasar Global Masuki Fase High Volatility With High Uncertainty
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan yang akrab disapa Kang Dahlan, menilai pasar global saat ini sedang memasuki fase “high volatility with high uncertainty” akibat kombinasi tekanan geopolitik, inflasi, dan arah kebijakan moneter AS. Menurutnya, investor perlu lebih selektif dalam menempatkan aset, terutama pada instrumen yang memiliki fundamental kuat dan tahan terhadap tekanan suku bunga tinggi.
“Pasar sedang sensitif terhadap setiap data ekonomi dan perkembangan geopolitik. Dalam kondisi seperti ini, investor sebaiknya memperkuat manajemen risiko, menjaga likuiditas, dan tidak terlalu agresif mengejar reli jangka pendek,” ujar Kang Dahlan. ***

