DCNews, Jakarta — Pergerakan pasar global pada Jumat (1/5/2026) menunjukkan dinamika yang beragam di tengah kombinasi sentimen suku bunga, ketegangan geopolitik, serta rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat dan Eropa. Investor cenderung berhati-hati memasuki awal bulan Mei, dengan pergeseran aset ke instrumen yang lebih aman sekaligus aksi ambil untung di pasar saham teknologi.
Harga emas (gold) tercatat mengalami penguatan moderat, didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven. Ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral global, terutama terkait potensi penundaan penurunan suku bunga, menjadi faktor utama yang menopang harga logam mulia tersebut.
Sementara itu, harga minyak (oil) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis. Tekanan datang dari kekhawatiran perlambatan permintaan global, meskipun di sisi lain pasokan masih dibayangi risiko gangguan akibat ketegangan geopolitik di beberapa wilayah produsen utama.
Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD menunjukkan penguatan terbatas terhadap dolar AS. Euro mendapat dukungan dari data ekonomi kawasan Eropa yang relatif stabil, meskipun penguatan masih tertahan oleh ekspektasi kebijakan moneter yang tetap ketat.
Untuk GBP/USD, poundsterling bergerak cenderung stabil dengan bias menguat tipis. Investor masih mencermati arah kebijakan Bank of England serta perkembangan inflasi Inggris yang belum sepenuhnya terkendali.
Sebaliknya, pasangan USD/JPY mengalami penguatan dolar terhadap yen Jepang. Hal ini dipicu oleh perbedaan kebijakan moneter yang masih kontras antara Federal Reserve dan Bank of Japan, di mana Jepang tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.
Di pasar saham, indeks Nasdaq mengalami tekanan dengan kecenderungan melemah. Saham-saham teknologi kembali terkoreksi akibat aksi profit taking serta kekhawatiran valuasi yang dinilai sudah cukup tinggi di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi.
Analisis Dahlan Consultant
Di tengah dinamika tersebut, konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan yang akrab disapa Kang Dahlan, menilai pasar saat ini memasuki fase konsolidasi yang krusial. Menurutnya, investor perlu mencermati arah kebijakan bank sentral dan data inflasi global sebagai penentu tren berikutnya.
“Aset safe haven seperti emas masih berpotensi menguat dalam jangka pendek, sementara pasar saham, khususnya sektor teknologi, berisiko mengalami koreksi lanjutan. Diversifikasi dan manajemen risiko menjadi kunci utama di tengah volatilitas yang tinggi ini,” ujarnya. ***

