DCNews, Jakarta — Harga emas bergerak sedikit menguat, minyak melonjak akibat gangguan pasokan di Timur Tengah, nilai tukar mata uang utama berfluktuasi di tengah penguatan dolar AS, dan indeks Nasdaq ditutup melemah seiring kekhawatiran kinerja sektor teknologi, seiring seluruh pelaku pasar menanti keputusan dan pernyataan dari Federal Reserve AS yang dijadwalkan dirilis hari ini, Rabu (29/4/2026).
Komoditas
Emas
Pada pukul 08.30 WIB, harga emas spot naik tipis 0,1% menjadi US$4.598,45 per ons troi, sedangkan kontrak berjangka pengiriman Juni 2026 juga menguat 0,1% ke posisi US$4.612,1 per ons, pulih sedikit setelah sesi sebelumnya jatuh ke titik terendah sejak awal April.
Pergerakan ini terjadi dalam suasana hati investor yang menunggu kejelasan arah kebijakan moneter AS dan dampak konflik Iran terhadap perekonomian dunia. Di satu sisi, ketegangan geopolitik tetap menopang permintaan aset aman, namun di sisi lain penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi membatasi ruang kenaikan lebih lanjut.
Minyak
Harga minyak mentah terus menguat, dengan minyak jenis Brent naik 2,8% ke posisi US$92,70 per barel dan WTI naik 3,1% menjadi US$88,40 per barel. Kenaikan ini dipicu berlanjutnya penutupan sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik, ditambah berita bahwa Uni Emirat Arab akan keluar dari OPEC mulai Mei 2026, yang menimbulkan kekhawatiran baru terkait stabilitas pasokan dan koordinasi produksi global. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi di seluruh dunia.
Valuta Asing
EUR/USD
Nilai tukar EUR/USD tercatat di level 1,0725, melemah 0,25% dibanding penutupan sebelumnya. Dolar AS menguat secara luas karena pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sementara di kawasan Eropa, data pertumbuhan ekonomi yang sedikit melambat dan pernyataan pejabat Bank Sentral Eropa yang masih berhati‑hati dalam menaikkan suku bunga tambahan memberikan tekanan tambahan terhadap euro.
GBP/USD
Pound sterling tercatat di posisi 1,2580, turun 0,3% dari sesi sebelumnya. Tekanan datang dari data inflasi Inggris yang menunjukkan penurunan lebih cepat dari perkiraan, sehingga memperkuat spekulasi bahwa Bank Inggris dapat mulai melonggarkan kebijakan moneter lebih awal dibandingkan AS, yang memperlebar selisih suku bunga dan membuat aset dalam mata uang pound kurang menarik bagi investor asing.
USD/JPY
Nilai tukar USD/JPY berada di angka 154,30, naik 0,4% seiring penguatan dolar. Yen tetap tertekan karena Bank Jepang masih mempertahankan kebijakan moneter yang sangat longgar, meskipun ada kekhawatiran pejabat pemerintah terkait pelemahan mata uang yang terlalu jauh. Pasar kini mengamati apakah akan ada intervensi otoritas Jepang di pasar valuta asing jika pelemahan berlanjut.
Pasar Saham
Nasdaq
Indeks Nasdaq Composite ditutup turun 0,9% ke posisi 24.663,80 poin pada perdagangan Selasa, dan kontrak berjangkanya bergerak sedikit lebih rendah di awal sesi Asia. Pelemahan dipicu laporan kinerja OpenAI yang gagal mencapai target pendapatan dan jumlah pengguna, yang memicu kekhawatiran tentang keberlanjutan investasi dan pertumbuhan di sektor kecerdasan buatan. Saham perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, Oracle, dan Broadcom juga ikut terkoreksi, meskipun investor masih menanti laporan laba dari perusahaan teknologi raksasa lainnya yang akan dirilis dalam waktu dekat .
Analisis Dahlan Consultant
Pergerakan pasar saat ini, berdasarkan analisis konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, sepenuhnya didorong oleh dua kekuatan utama: ketegangan geopolitik yang mengganggu pasokan energi dan arah kebijakan moneter negara besar. Minyak yang terus naik berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi, padahal pasar baru saja mulai berharap bahwa tekanan harga sudah mereda.
Sementara itu, kinerja sektor teknologi yang mulai melambat menjadi peringatan bahwa pertumbuhan yang pesat beberapa waktu terakhir bisa saja tidak berkelanjutan jika permintaan tidak sejalan dengan biaya investasi yang terus meningkat. Untuk para pelaku pasar, sikap menunggu dan melihat adalah langkah yang paling tepat saat ini; hindari posisi berlebihan sampai ada kepastian dari The Fed dan perkembangan terbaru di Timur Tengah,” jelas pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu. ***

