DCNews, Moskow — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer di Selat Hormuz, seraya memperingatkan bahwa pendekatan bersenjata justru berpotensi memicu konflik lebih luas dengan Iran.
Pernyataan itu muncul saat situasi keamanan di Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global—kian memanas menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Gangguan di jalur ini telah menciptakan blokade de facto yang berdampak langsung pada pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk ke pasar internasional.
Al-Sudani menyampaikan bahwa Irak menolak pendekatan militer dalam menjaga keamanan pelayaran. Ia menilai kehadiran armada bersenjata justru akan memperburuk situasi dan memicu respons agresif dari Teheran.
“Kami tidak percaya pada solusi militer. Perlindungan bersenjata terhadap kapal akan memprovokasi reaksi dari Iran dan tidak akan berkontribusi pada pelayaran. Oleh karena itu, kami tidak akan berpartisipasi dalam aksi militer apa pun di Teluk Persia,” ujarnya dalam wawancara dengan media Italia.
Sikap Irak ini berbeda dengan sejumlah negara Barat dan sekutu yang mulai menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam pengamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Pada 19 Maret, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang mengumumkan kesiapan mereka untuk mendukung upaya menjaga keamanan navigasi di Selat Hormuz.
Sementara itu, Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump telah mendorong negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal militer ke kawasan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas jalur perdagangan energi global.
Ketegangan meningkat tajam sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil, serta memicu serangan balasan dari Iran terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Situasi ini mempertegas kekhawatiran bahwa Selat Hormuz—yang selama ini menjadi salah satu chokepoint energi paling strategis di dunia—berpotensi menjadi titik api konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.
Irak Menjaga Posisi Netral
Penolakan Irak untuk bergabung dalam operasi militer mencerminkan upaya menjaga posisi netral di tengah rivalitas kekuatan besar di kawasan. Jika eskalasi terus berlanjut, gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia, meningkatkan volatilitas pasar, serta memperbesar risiko krisis energi global dalam jangka pendek. ***

