DCNews, Jakarta — Kematian Ali Khamenei dalam serangan udara yang diklaim melibatkan Amerika Serikat dan Israel memicu gelombang reaksi di Timur Tengah, termasuk dugaan serangan siber terhadap sejumlah situs resmi pemerintah Qatar dan Bahrain. Di tengah masa berkabung nasional Iran, kelompok peretas pro-Teheran mengklaim bertanggung jawab atas gangguan akses tersebut.
Sejumlah situs web pemerintah Qatar dilaporkan mengalami gangguan pada Minggu (1/3/2026), beberapa jam setelah akun pemantau siber FalconFeeds.io di platform X menyebut adanya klaim serangan dari kelompok bernama DieNet. Kelompok itu menyatakan menargetkan portal-portal resmi di Qatar dan Bahrain sebagai bentuk respons atas eskalasi konflik regional.
Dalam unggahan yang beredar, DieNet mengklaim menyerang sejumlah situs, termasuk portal Kementerian Pendidikan Qatar (edu.gov.qa), Kementerian Luar Negeri Qatar (mofa.gov.qa), layanan elektronik Kementerian Dalam Negeri Qatar, Kantor Komunikasi Pemerintah Qatar (gco.gov.qa), portal layanan nasional Bahrain (bahrain.bh), serta perusahaan telekomunikasi Bahrain, Batelco.
Tangkapan layar yang disertakan dalam unggahan tersebut menunjukkan salah satu situs berstatus “closed” saat dilakukan pengecekan performa, mengindikasikan gangguan akses pada waktu tertentu. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Qatar maupun Bahrain terkait penyebab gangguan maupun klaim serangan tersebut.
Peristiwa ini terjadi di tengah perkembangan dramatis di Teheran. Media melaporkan bahwa Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang berkuasa lebih dari tiga dekade dan menjadi simbol konfrontasi panjang Republik Islam dengan Barat, tewas pada Sabtu setelah serangan udara menghantam ibu kota Iran. Ia berusia 86 tahun.
Media pemerintah Iran pada Minggu mengonfirmasi kematiannya, menyebut Khamenei tewas di kompleks kantornya. Pemerintah Iran juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari, menandai berakhirnya era kepemimpinan yang membentuk arah politik luar negeri dan kebijakan keamanan Iran sejak akhir 1980-an.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam unggahan media sosialnya menyatakan bahwa kematian Khamenei merupakan bentuk keadilan. “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi bagi seluruh warga Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan gerombolan preman haus darahnya,” tulis Trump.
Eskalasi ini mempertegas bahwa konflik tidak lagi terbatas pada operasi militer konvensional, tetapi juga merambah ke ranah siber. Serangan terhadap infrastruktur digital pemerintah di kawasan Teluk berpotensi memperluas dampak krisis, terutama jika direspons dengan tindakan balasan yang lebih agresif. ***

