DCNews, Jakarta — Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah meninjau sejumlah lokasi di Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo, Jawa Timur, dalam kunjungan kerja dua hari pada 24–25 Februari 2026 untuk memetakan pengembangan rumah tapak dan hunian vertikal bersubsidi. Pemerintah membidik kawasan Waru, Sidoarjo, sebagai salah satu titik potensial untuk menjawab lonjakan kebutuhan rumah terjangkau di wilayah metropolitan Surabaya.
Dalam keterangannya, Fahri menyebut kawasan Waru memiliki aksesibilitas dan prospek pengembangan yang dinilai menjanjikan untuk pembangunan rumah subsidi. Menurutnya, lokasi tersebut dapat menopang pertumbuhan kawasan Surabaya dan wilayah penyangga di sekitarnya yang terus berkembang sebagai pusat ekonomi Jawa Timur.
“Lokasi di Waru memiliki akses yang baik dan peluang pengembangan yang menjanjikan untuk mendukung pertumbuhan kawasan metropolitan Surabaya,” kata Fahri, Jumat (27/2/2026).
Kunjungan itu tidak hanya menyoroti ketersediaan lahan, tetapi juga mencakup pembahasan pengelolaan sanitasi serta skema pembiayaan perumahan. Fahri menekankan bahwa pembangunan perumahan bersubsidi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus dirancang secara terpadu sejak tahap perencanaan kawasan.
Ia menyebut desain tata ruang, penyediaan infrastruktur dasar, hingga fasilitas umum seperti sekolah dan layanan kesehatan harus menjadi bagian dari satu kesatuan perencanaan. Pendekatan terintegrasi, menurut dia, penting agar proyek perumahan tidak sekadar membangun unit rumah, tetapi juga menciptakan lingkungan yang layak huni dan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Fahri juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan pengembang swasta dan lembaga pembiayaan. Dukungan pembiayaan yang kuat, katanya, menjadi prasyarat agar proyek dapat direalisasikan sesuai target.
“Program pembangunan rumah membutuhkan dukungan pembiayaan yang kuat. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci, baik dalam pengelolaan aset maupun dalam skema pembiayaan,” ujarnya.
Kunjungan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kebutuhan rumah subsidi di kawasan perkotaan, khususnya wilayah penyangga kota besar seperti Surabaya. Pemerintah dan pemangku kepentingan sektor perumahan menghadapi tantangan keterbatasan lahan, tingginya harga tanah, serta kebutuhan infrastruktur dasar yang memadai untuk menopang pertumbuhan hunian terjangkau di kawasan metropolitan. ***

