Tekanan Ekonomi Picu Pinjol Ilegal dan Investasi Bodong, Kang Dahlan: Harapan Penghasilan Masyarakat Menguap

Date:

DCNews, Jakarta — Konsultan keuangan Asep Dahlan menyoroti maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal dan investasi bodong yang kian menjebak masyarakat di tengah tekanan makroekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Menurut dia, memburuknya daya beli dan menyempitnya peluang pendapatan mendorong masyarakat mengambil keputusan finansial berisiko demi bertahan hidup.

Kang Dahlan, yang dikenal sebagai konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, menilai fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi rumah tangga yang semakin tertekan. Kenaikan harga kebutuhan pokok, ketidakpastian kerja, serta pertumbuhan pendapatan yang stagnan membuat sebagian masyarakat kehilangan harapan rasional atas sumber penghasilan yang wajar.

“Dalam situasi seperti ini, imajinasi penghasilan masyarakat runtuh. Ketika kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi, tawaran pinjol ilegal dan investasi bodong tampil seolah-olah sebagai jalan keluar cepat,” kata Kang Dahlan, dihubungi DCNews, Sabtu (10/1/2026).

Ia menjelaskan, tekanan ekonomi menciptakan ruang psikologis yang subur bagi praktik keuangan ilegal. Janji keuntungan instan, proses pencairan dana yang mudah, serta minimnya literasi keuangan membuat masyarakat rentan terjebak dalam skema yang pada akhirnya memperparah kondisi finansial mereka.

Menurut Kang Dahlan, maraknya pinjol ilegal tidak hanya mencerminkan lemahnya pengawasan, tetapi juga menunjukkan adanya kegagalan sistemik dalam menyediakan akses pembiayaan yang sehat dan terjangkau. Di sisi lain, investasi bodong berkembang karena masyarakat terdorong mengejar imbal hasil tinggi tanpa sempat menilai risiko secara rasional.

“Ketika ekonomi menekan dari segala arah, logika sering kalah oleh kebutuhan. Ini bukan semata persoalan individu yang ceroboh, tapi sinyal bahwa ada masalah struktural dalam ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Kang Dahlan juga mengingatkan bahwa dampak pinjol ilegal dan investasi bodong tidak berhenti pada kerugian finansial. Tekanan psikologis, konflik sosial, hingga kekerasan dalam proses penagihan menjadi konsekuensi lanjutan yang semakin memperburuk kualitas hidup masyarakat.

Ia mendorong pemerintah dan otoritas terkait untuk tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi juga memperkuat kebijakan ekonomi yang mampu memulihkan harapan pendapatan masyarakat. Tanpa perbaikan kondisi makroekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan, praktik keuangan ilegal akan terus menemukan korban baru.

“Selama masyarakat masih hidup dalam ketidakpastian ekonomi, pinjol ilegal dan investasi bodong akan selalu punya pasar,” kata Kang Dahlan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus, DPR Desak Polisi Usut Tuntas

DCNews, Jakarta — Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman,...

Imbal Hasil P2P Lending Capai 18% per Tahun, Pengamat Ingatkan Risiko Gagal Bayar

DCNews, Jakarta — Imbal hasil tinggi dari investasi pada...

TP PKK Surabaya Gencarkan Literasi Digital bagi Ibu, Cegah Anak Terpapar Pinjol, Judol hingga Cyberbullying

DCNews, Jakarta — Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota...

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Turun, UBS Rp3,05 Juta dan Galeri24 Rp3,03 Juta per Gram

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang diperdagangkan melalui...