DCNews, Jakarta — Industri teknologi finansial (fintech) Indonesia diproyeksikan terus melaju dalam lima tahun ke depan dan kian memainkan peran strategis dalam menopang ekonomi nasional, khususnya melalui penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja.
Laporan Mordor Intelligence mencatat, nilai pasar fintech Indonesia diperkirakan mencapai USD 20,93 miliar pada 2025 dan melonjak menjadi USD 32,67 miliar pada 2030. Pertumbuhan tersebut tidak hanya mencerminkan ekspansi sektor jasa keuangan digital, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi akar rumput.
Pendiri sekaligus CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan fintech telah berkembang menjadi katalis penting bagi inklusi keuangan dan penciptaan lapangan kerja. “Fintech berkontribusi sekitar 4,74 persen terhadap perekonomian Indonesia. Melalui pembiayaan, dompet digital, investasi mikro, hingga layanan keuangan lainnya, fintech memperkuat UMKM yang pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,47 juta orang pada Agustus 2024, naik 4,91 persen dibandingkan Februari 2024. Di tengah tantangan tersebut, UMKM tetap menjadi penyangga utama ekonomi nasional dengan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Fintech dan Lapangan Kerja Perdesaan
Andi mengungkapkan, sepanjang 2024, Amartha turut mendorong terciptanya lebih dari 110.000 lapangan kerja baru di wilayah perdesaan, yang sebagian besar berasal dari usaha perempuan pelaku UMKM. “Ini membuktikan bahwa fintech mampu menjadi motor kemandirian ekonomi keluarga dan komunitas di daerah,” katanya.
Dampak tersebut tercermin dalam Sustainability Report Amartha 2024, yang mencatat 77 persen mitra mengalami peningkatan pendapatan sejak bergabung. Selain itu, 50.467 UMKM ultra mikro berhasil naik kelas menjadi usaha skala kecil, memperkuat daya tahan dan keberlanjutan bisnis di tingkat lokal.
Pendekatan yang diterapkan, menurut Andi, tidak semata-mata berfokus pada penyaluran modal. Amartha mengombinasikan pembiayaan dengan edukasi keuangan, pendampingan kewirausahaan, transparansi layanan, serta perlindungan data nasabah.
Atas strategi tersebut, Amartha meraih sertifikasi Gold-Level dari MicroFinanza Rating (MFR), lembaga pemeringkat independen berbasis di Eropa. Hingga kini, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp35 triliun pembiayaan kepada 3,3 juta perempuan pelaku UMKM di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.
UMKM, Urbanisasi, dan Ekonomi Lokal
“UMKM yang bertumbuh akan membuka lapangan kerja di daerah dan menekan laju urbanisasi,” ujar Andi. Menurutnya, basis komunitas yang kuat membuat UMKM cenderung merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar, termasuk ibu rumah tangga dan pemuda desa, tanpa harus meninggalkan keluarga untuk merantau ke kota.
Dampak nyata itu dirasakan Sri Mulyati, pelaku usaha konveksi rumahan di Grobogan, Jawa Tengah, yang menjadi mitra Amartha sejak 2021. “Awalnya saya hanya punya satu mesin. Sekarang saya bisa mempekerjakan beberapa ibu di sekitar rumah. Usaha kecil ini ternyata bisa membuka lapangan kerja dan membantu biaya sekolah anak-anak mereka,” tuturnya.
Pengalaman serupa dialami Wiji Lestari, pengusaha kue rumahan yang memulai usahanya pada 2017. Berkat dukungan pembiayaan, kapasitas produksinya melonjak dari 100 kue per hari menjadi 1.500 kue, sekaligus membuka peluang kerja bagi tiga karyawan. “Usaha ini bukan hanya menghidupi keluarga saya, tetapi juga memberdayakan tetangga sekitar,” katanya.
Menutup pernyataannya, Andi menegaskan bahwa UMKM adalah ekosistem yang menyatukan keluarga, pasar, dan komunitas. “Di situlah lapangan kerja tercipta dan kesejahteraan merata hingga ke perdesaan. Inilah fokus kami—memperkuat ekonomi akar rumput agar tumbuh berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi ekonomi lokal,” ujarnya. ***

