DCNews, Jakarta – Keberhasilan pemerintah mewujudkan swasembada beras dengan cadangan tertinggi sepanjang sejarah mendapat apresiasi dari parlemen. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menilai capaian tersebut sebagai tonggak penting ketahanan pangan nasional, sekaligus momentum untuk memperluas kemandirian pada komoditas strategis lain seperti jagung dan gula.
Alex melalui keterangan tertulisnya, (Kamis (8/1/2026) menyebut swasembada beras membuktikan adanya keseriusan negara dalam menata sektor pangan dari hulu ke hilir.
“Keberhasilan ini jangan berhenti di beras. Kita harus melangkah lebih jauh ke jagung, gula, dan komoditas pangan strategis lainnya,” ujar politisi PDI Perjuangan itu.
Namun, di balik capaian tersebut, Alex mengingatkan pemerintah agar tidak abai terhadap tantangan lanjutan, terutama dalam pengelolaan cadangan beras nasional yang kini melimpah. Menurutnya, tanpa sistem penyimpanan yang memadai, kelebihan stok justru berisiko menimbulkan kerugian.
“Cadangan beras yang besar harus diiringi kesiapan infrastruktur penyimpanan. Kalau tidak dikelola dengan baik, kualitas beras bisa cepat menurun,” katanya.
Alex juga menyoroti keterbatasan Indonesia dalam menembus pasar ekspor beras global. Ia menilai harga pokok produksi beras dalam negeri yang masih relatif tinggi membuat Indonesia belum mampu bersaing dengan negara-negara eksportir utama.
“Kita harus realistis. Dengan struktur biaya yang ada sekarang, ekspor beras belum kompetitif,” ujarnya.
Pernyataan Alex sejalan dengan deklarasi Presiden Prabowo Subianto yang sehari sebelumnya mengumumkan capaian swasembada pangan nasional. Dalam acara Panen Raya di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026), Prabowo secara resmi menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan pada 2025.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Rabu 7 Januari 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan tahun 2025,” kata Prabowo di hadapan ribuan petani, disertai prosesi simbolis menumbuk gabah.
Presiden menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan fondasi utama kedaulatan negara. Ketergantungan pada impor pangan, menurutnya, akan melemahkan posisi bangsa dalam jangka panjang.
“Tidak mungkin suatu bangsa benar-benar merdeka jika urusan pangannya masih bergantung pada bangsa lain,” tegas Prabowo.
Ke depan, tantangan pemerintah tidak hanya mempertahankan swasembada beras, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi, efisiensi biaya, serta perluasan kemandirian pangan nasional agar Indonesia tidak sekadar cukup makan, tetapi benar-benar berdaulat. ***

