Lonjakan Pinjol di Sumsel Jelang Nataru 2025, Palembang Peringkat Tertinggi

Date:

DCNews, Palembang – Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) memicu lonjakan signifikan penggunaan layanan pinjaman online (pinjol) di Sumatera Selatan (Sumsel). Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumsel Babel, Arifin Susanto, menyebut tren ini dipacu kebutuhan konsumsi masyarakat selama libur akhir tahun yang berdekatan dengan persiapan Ramadan 2026, sehingga layanan pembiayaan digital cepat menjadi pilihan utama.

“Dari sekarang kita pantau sudah mulai naik (pengguna pinjol). Dilihat dari kebutuhan tinggi, ilegal dan legal seimbang meningkat,” ujar Arifin, Kamis (18/12/2025).

Selain memenuhi kebutuhan harian, lonjakan pinjol juga dipengaruhi gaya hidup masyarakat. Arifin menyoroti fenomena peminjaman hanya untuk membeli barang mewah atau tren, seperti gadget terbaru, yang berpotensi merusak stabilitas ekonomi.

“Ada yang memang tujuannya kebutuhan konsumsi harian, tetapi banyak juga yang melakukan pinjol ini hanya untuk gaya hidup. Contoh kecil, karena mau tahun baru beberapa sengaja (pinjol) untuk membeli iPhone terbaru. Nah ini sebenarnya yang merusak ekonomi,” jelasnya.

Pengguna Pinjol Sumsel Diprediksi Naik Tiga Kali Lipat

Arifin menyatakan, prediksi kenaikan pengguna pinjol di Sumsel sepanjang Nataru dan Ramadan 2026 bisa meningkat hingga tiga kali lipat, meski data pasti masih dalam proses verifikasi OJK. Sebelumnya, kasus pinjol ilegal yang berujung penipuan digital menyebabkan kerugian Sumsel mencapai Rp107 miliar, menempatkan provinsi ini peringkat kedelapan nasional.

“Angka prediksi harus lihat data dulu, nanti ada hitung-hitungannya. Tetapi kalau lihat tren, siklus, pengguna pinjol di Sumsel sepanjang momen ke depan bisa naik 3 kali lipat,” kata Arifin.

Palembang, Pusat Penggunaan Pinjol Tertinggi di Sumsel

Berdasarkan tren pengguna, Palembang menjadi wilayah dengan jumlah peminjam terbesar di Sumsel, diikuti Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI). Faktor tingginya kebutuhan harian warga di wilayah ini mendorong dominasi penggunaan pinjol.

Pergerakan ini juga diperkuat oleh perusahaan pinjol yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menarik konsumen. Arifin mencontohkan, calon pengguna dihubungi operator AI yang meyakinkan mereka hingga akhirnya memutuskan meminjam.

“Contohnya bakal konsumen ditelpon dan operator yang menjelaskan itu AI, ini yang akhirnya mendorong orang jadi ingin (memakai pinjol). Karena terbuai, merasa seperti dihipnotis atau istilahnya di kita kena gendam,” katanya.

Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) per November 2025, Sumsel menempati peringkat kedelapan nasional dengan jumlah laporan penipuan digital dari pinjol ilegal mencapai 8.135 kasus, dengan total kerugian senilai Rp107,72 miliar. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

UU Satu Data Indonesia: Jangan Biarkan Data Rakyat Menjadi Senjata Industri Pinjol

Oleh: Asep Dahlan (Konsultan Keuangan dan Pendiri Dahlan Consultants...

Status WhatsApp Debt Collector Berisi Kata-kata Kasar Berujung Laporan Pencemaran Nama Baik di Tegal

DCNews, Tegal – Unggahan status WhatsApp yang berisi rekaman...

Habiburokhman Singgung Watergate Indonesia saat Dorong RUU Penyadapan

DCNews, Jakarta - Praktik penyadapan ilegal yang menyeret sejumlah...

UU Satu Data Indonesia Harus Hentikan Tumpang Tindih Data dan Lindungi Privasi Masyarakat

DCNews, Jakarta – Ketidakakuratan data pemerintah berpotensi membuat masyarakat...