DCNews, Jakarta – Dua raksasa Liga Italia, Juventus dan AC Milan, memamerkan konsistensi sekaligus ambisi besar mereka dalam perebutan posisi elite Serie A musim 2025/2026. Juventus melanjutkan kebangkitan mereka dengan kemenangan 2-1 atas Cagliari di Turin, sementara Milan kembali menunjukkan stabilitas permainan yang mengantarkan mereka duduk di puncak klasemen. Pekan ke-13 menghadirkan drama, ketegangan, dan momentum penting yang berpotensi mengubah lanskap persaingan menuju paruh musim.
Juventus: Comeback, Konsistensi, dan Kilau Kenan Yildiz
Juventus memulai laga dengan tekanan besar setelah gagal menang dalam dua pertandingan terakhir. Ketegangan bertambah ketika Cagliari mencetak gol lebih dulu melalui Sebastian Esposito pada menit ke-26, memaksa tuan rumah menghadapi ujian mental di hadapan puluhan ribu tifosi yang menuntut konsistensi.
Namun, hanya semenit kemudian, Kenan Yildiz menjawab tekanan itu. Pemain internasional Turki berusia 20 tahun tersebut menunjukkan ketenangan dan kualitas teknik untuk menyamakan kedudukan, mengembalikan momentum Juventus. Gol itu membakar energi stadion dan mengubah jalannya pertandingan.
Pada masa tambahan waktu babak pertama, Yildiz kembali menjadi penentu. Memanfaatkan celah di lini belakang Cagliari, ia menyambut umpan pendek Pierre Kalulu dan melepaskan sontekan akurat ke gawang. Dua gol itu menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1 bagi Juventus, sekaligus memperlihatkan kecerdikan Yildiz dalam membaca ruang dan situasi.
Pelatih Juventus menilai performa Yildiz sebagai simbol kebangkitan tim. Dengan torehan lima gol dan lima assist dalam 17 penampilan di seluruh kompetisi, sang penyerang muda kini menjadi salah satu pemain paling penting dalam lini serang Bianconeri musim ini.
Kemenangan tersebut memperpanjang catatan tak terkalahkan Juventus dalam tujuh pertandingan terakhir. Dari tujuh laga itu, mereka meraih empat kemenangan dan tiga hasil imbang. Tambahan tiga poin membawa Juventus mengumpulkan 23 poin dan naik ke posisi ketujuh, menjaga peluang mereka untuk kembali ke zona Eropa.
AC Milan: Stabil, Efisien, dan Kembali ke Puncak
Sementara itu, Milan terlihat semakin solid setelah kemenangan besar di Derbi Milan pekan lalu. Tim asuhan Massimiliano Allegri kembali tampil efisien dalam duel ketat melawan Lazio di San Siro, dan Rafael Leao menjadi pembeda dalam pertandingan yang berjalan penuh taktik.
Memasuki babak kedua, Leao memanfaatkan kelengahan lini belakang Lazio dan mencetak gol pada menit ke-51. Aksi itu memperpanjang daftar kontribusi pentingnya musim ini, dengan enam gol dalam 10 penampilan—sebuah rasio yang menempatkannya di jajaran penyerang paling produktif Liga Italia.
Milan secara keseluruhan memperlihatkan kedewasaan bermain. Mereka tidak dominan sepanjang laga, tetapi mereka mampu menjaga ritme dan mengontrol lini tengah dalam fase krusial. Allegri, yang kembali menangani Rossoneri, menekankan pentingnya stabilitas seiring ketatnya persaingan di papan atas.
Tambahan tiga poin memastikan Milan menjadi capolista, memimpin klasemen dengan 28 poin, unggul satu angka dari AS Roma. Namun posisi itu belum aman karena Roma masih memiliki satu pertandingan tersisa pekan ini, yakni menghadapi Napoli di Olimpico pada Senin (30/11) dini hari WIB.
Liga Italia: Persaingan Semakin Ketat
Pekan ke-13 menjadi gambaran betapa kompetitifnya Liga Italia musim ini. Tim-tim seperti Milan, Roma, Juventus, Napoli, dan Inter masih berpeluang bersaing ketat hingga akhir musim. Konsistensi akan menjadi faktor penentu, terutama menjelang periode pertandingan intens pada Desember hingga Januari.
Juventus dan Milan, yang sama-sama menunjukkan performa stabil dalam beberapa pekan terakhir, kini dipandang sebagai dua tim yang berpotensi menjadi pesaing serius dalam perebutan gelar maupun zona Liga Champions.
Hasil Lengkap Liga Italia Pekan ke-13:
- Como 2–0 Sassuolo
- Genoa 2–1 Hellas Verona
- Parma 0–2 Udinese
- Juventus 2–1 Cagliari
- Milan 1–0 Lazio. ***

