DCNews, Bangkalan — Fenomena pinjaman online kian merambah kalangan muda Indonesia. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan, 45,15 persen Milenial kini menggunakan layanan pinjaman daring, melampaui 41,44 persen Gen Z. Sementara Generasi X mencatatkan 11,75 persen, dan Baby Boomers hanya 1,65 persen.
Tren tersebut, sebagaimana disampaikan Puji Agung Budiman, Head of Public Relations & Communications PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC), Sabtu (1/11/2025) menandakan bahwa utang digital bukan lagi persoalan individu, melainkan gejala sosial yang mencerminkan gaya hidup generasi produktif di era ekonomi digital.
“Era digital memang memudahkan kita dalam bertransaksi dan mengelola keuangan. Namun, seperti dua sisi mata uang, ada pula dampak negatif yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Menurut Puji, salah satu risiko yang kini mengemuka adalah pinjaman online ilegal, penggunaan paylater berlebihan, serta maraknya judi daring. “Fenomena ini tidak bisa dihindarkan, tapi tentu bisa kita mitigasi dengan edukasi keuangan yang tepat,” tambahnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap literasi finansial, BNC menggelar kegiatan edukasi bertajuk “Tantangan Mengelola Keuangan di Era Digital dan Mawas terhadap Penipuan Digital” di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan.
Kegiatan yang dilakukan secara tatap muka dan daring itu menghadirkan dua pembicara utama: Vicky Valentino Frickel, Head of Fraud Operations BNC, serta Laurentin Carolin Tiara, Mahasiswa Berprestasi UTM 2025 dan penerima Beasiswa Bank Indonesia.
“Kami memberi perhatian besar terhadap edukasi keuangan bagi generasi muda, karena literasi finansial merupakan fondasi kemandirian ekonomi di era digital,” ujar Vicky.
Ia menekankan bahwa mahasiswa adalah kelompok paling aktif bertransaksi secara digital, sehingga penting memahami risiko dan menerapkan pengelolaan uang yang bijak.
Sementara itu, Laurentin Carolin Tiara mengakui fenomena pinjol juga menyentuh dunia kampus. “Ada teman saya yang meminjam karena terdesak kebutuhan, tapi ada juga yang terlilit utang karena gaya hidup hedon. Bahkan ada yang terjebak pinjaman online ilegal,” ungkap Laurent.
Menurutnya, kegiatan literasi keuangan seperti ini sangat relevan bagi mahasiswa, agar mereka mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta terhindar dari jerat utang digital. ***

