DCNews, Jakarta — Pemerintah menempatkan program perumahan rakyat sebagai strategi utama menekan kemiskinan ekstrem. Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah mengatakan, program ini bukan sekadar pembangunan rumah, melainkan mesin pertumbuhan (growth engine) yang dapat mengangkat jutaan keluarga miskin dari desil terbawah menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
“Jika konsisten, masyarakat dari desil 1 bisa naik ke desil 2, 3, bahkan 4, dengan kualitas hidup lebih baik,” kata Fahri usai bertemu Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Selasa (30/9/2025).
Pertemuan itu menyoroti pentingnya penggunaan data kemiskinan ekstrem sebagai pijakan kebijakan. Dengan mengacu pada data desil 1 hingga desil 4, pemerintah meyakini intervensi perumahan dan penataan kawasan akan lebih tepat sasaran, sehingga manfaat program benar-benar dirasakan oleh keluarga miskin ekstrem.
Angka Kemiskinan Ekstrem Capai Satu Persen
Saat ini, tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia diperkirakan mencapai satu persen atau sekitar satu juta keluarga. Menurut Fahri, intervensi perbaikan hunian dapat menjadi instrumen strategis untuk memutus lingkaran kemiskinan struktural.
Pemerintah, lanjut Fahri, telah menyiapkan beberapa skema: renovasi rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), penataan kawasan kumuh dan pesisir, serta pembangunan hunian vertikal berbasis konsolidasi tanah.
“Ini bukan hanya soal tempat tinggal yang layak, tetapi juga penciptaan jutaan lapangan kerja baru melalui multiplier effect,” ujar Wakil Ketua DPR RI itu.
Dukungan Politik
Cak Imin mendukung langkah tersebut. Ia menyebut program perumahan rakyat sebagai strategi nyata pengentasan kemiskinan yang menyasar kantong-kantong kemiskinan ekstrem.
“Kami sepakat berkolaborasi. Program perumahan bukan hanya tentang hunian layak, tetapi jalan keluar untuk menghapus kemiskinan ekstrem,” kata Muhaimin. ***

