DCNews, Jakarta — Tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Syahganda Nainggolan, menyuarakan desakan agar Presiden terpilih Prabowo Subianto mengevaluasi dan mengganti Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait. Ia menilai sektor properti—yang menjadi salah satu motor pemulihan ekonomi nasional—tidak menunjukkan kinerja optimal di bawah kepemimpinan Maruarar.
Syahganda menyoroti lambannya realisasi program pembangunan 3 juta rumah yang menjadi janji kampanye Prabowo. Menurutnya, program ini seharusnya bisa menjadi katalisator penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, terutama melalui efek berganda (multiplier effect) di sektor konstruksi, bahan bangunan, dan jasa pendukung.
“Enggak usah tiga juta. 150.000 rumah saja, satu rumah bisa serap 3–4 tenaga kerja. Itu sudah 600.000 lapangan kerja baru,” ujarnya dalam diskusi di kanal YouTube Refly Harun, Minggu kemarin (3/8/2025).
Lebih lanjut, ia menilai Maruarar kurang memahami urgensi sektor properti sebagai instrumen strategis pemulihan ekonomi pascapandemi dan perlambatan global.
“Misalkan Maruarar Sirait diganti saja dengan Fahri Hamzah,” kata Syahganda, menyebut nama alternatif yang dianggap lebih berani dan berpihak pada rakyat.
Properti, Investasi, dan Ketenagakerjaan
Sektor properti dan perumahan memang memainkan peran penting dalam mendorong konsumsi domestik dan penyerapan tenaga kerja. Realisasi pembangunan perumahan dalam skala besar dinilai dapat menggerakkan industri turunan seperti semen, baja, furnitur, hingga jasa keuangan seperti KPR dan pembiayaan konstruksi.
Namun, hingga pertengahan 2025, realisasi program rumah rakyat dinilai belum mampu mencapai target yang diharapkan pasar. Pelaku industri properti juga mengeluhkan masih minimnya dukungan fiskal dan birokrasi yang berbelit dalam penyediaan lahan serta perizinan.
Syahganda menilai kondisi stagnasi saat ini hanya bisa diatasi jika Prabowo membentuk kabinet ekonomi yang lebih progresif dan terfokus pada target pembangunan konkret.
“Kalau tidak diganti, ya tidak akan terjadi apa-apa, tidak ada perubahan. Ganti dong,” tegasnya.
Desakan Perombakan Kabinet
Syahganda juga menyampaikan kritik lebih luas terhadap susunan kabinet, yang menurutnya harus diisi oleh profesional dengan rekam jejak keberpihakan kepada rakyat, bukan sekadar loyalis politik.
“Untuk Indonesia Emas, butuh orang-orang yang punya rekam jejak membela rakyat. Presiden Prabowo harus ambil keputusan cepat,” ujarnya.
Ia meyakini, bila pergantian dilakukan secara tepat dan cepat, maka dampak positif akan terasa dalam hitungan bulan, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, investasi sektor properti, hingga indeks kepercayaan publik. ***

