Pendeta GKE Rusmeyaty Bantah Tuduhan Arisan Bodong dan Pinjol, Minta Penyebar Hoaks Ditindak

Date:

DCNews, Palangka Raya — Pendeta Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Rusmeyaty, yang akrab disapa Pdt Memey, membantah tuduhan keterlibatan dalam dugaan penggelapan uang, arisan bodong, dan pinjaman online (pinjol) yang beredar di media sosial. Ia mengaku menjadi korban penyebaran informasi yang dinilainya sebagai fitnah, bahkan menerima pesan WhatsApp bernada ancaman sebelum namanya dan anaknya viral di sejumlah platform digital.

Pdt Memey menegaskan tidak pernah terlibat ataupun mengetahui persoalan yang dituduhkan kepadanya. Anak perempuannya yang saat ini menempuh pendidikan tinggi di Surabaya juga disebut tidak memiliki kaitan dengan perkara tersebut.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (2/11/2026), Pdt Memey mengaku terpukul dan dirugikan oleh informasi yang menyebarkan tuduhan bahwa dirinya bersama sang anak merupakan bagian dari kelompok yang membawa kabur uang, menjalankan arisan bodong, hingga terlibat pinjol.

“Saya, Pdt Rusmeyaty atau sehari-hari dipanggil Pdt Memey adalah salah satu Pendeta GKE, yang saat ini merasa terpukul, terkejut dan sangat dirugikan akibat perbuatan oknum yang menyebarkan fitnah bahwa saya beserta anak saya yang kuliah di Surabaya merupakan komplotan melarikan uang, membawa arisan bodong, dan pinjol,” ujarnya.

Ia mengatakan, tekanan terhadap dirinya tidak hanya muncul melalui unggahan di media sosial. Sebelum informasi tersebut menyebar luas, ia mengaku telah menerima pesan WhatsApp bernada intimidasi dan ancaman.

“Saya perlu jelaskan bahwa saya dan anak saya sama sekali tidak ada kaitannya dan tidak tahu menau dengan hal tersebut. Kami menerima WA dan ancaman, lalu kemudian beritanya diviralkan di IG, Tiktok dan media sosial lainnya. Sekali lagi saya sampaikan bahwa saya tidak pernah terlibat apalagi melakukan hal tersebut di atas. Ini penting untuk diketahui oleh masyarakat semua,” katanya.

Kasus tersebut mendapat perhatian dari jajaran pimpinan GKE di Kalimantan Tengah. Ketua Majelis Sinode GKE Wilayah Pelayanan Provinsi Kalimantan Tengah, Ir. Sipet Hermanto, M.Si, mengecam penyebaran tuduhan yang menyasar Pdt Memey.

Menurut Sipet, informasi yang beredar tidak hanya berdampak terhadap nama baik pendeta yang bersangkutan, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan bergereja dan merusak reputasi institusi GKE.

“Secara pribadi saya mengecam fitnah yang disebarkan di media sosial oleh orang yang tidak bertanggung jawab terhadap Pendeta Memey. Karena saya meyakini 100 persen itu adalah fitnah yang sangat merusak kehidupan bergereja di lingkungan kami,” ujar Sipet.

Ia mengaku mengenal keseharian Pdt Memey dan menilai pendeta tersebut sebagai pribadi sederhana. Atas dasar itu, Sipet menyampaikan dukungan kepada Pdt Memey sekaligus meminta aparat penegak hukum mengusut pihak-pihak yang diduga menyebarkan informasi tersebut.

“Saya mengetahui secara persis bagaimana kehidupan Pendeta Memey yang orangnya sederhana dan lurus-lurus saja, sehingga tidak mungkin terlibat dalam pinjol. Saya menegaskan agar siapapun yang terlibat dalam penyebaran fitnah itu untuk menghentikan aksi jahatnya, karena apa yang dilakukannya sangat merusak nama baik GKE secara umum, seraya meminta aparat hukum menindak tegas para pelaku,” katanya.

Minta Penyebaran Informasi Palsu Dihentikan

Kecaman serupa disampaikan Evangelis Sadagori Henoch Binti, S.I.Kom. Penginjil GKE yang juga dikenal sebagai jurnalis senior di Kalimantan Tengah itu menilai penyebaran informasi yang belum terbukti kebenarannya untuk menyerang reputasi seseorang merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Pria yang akrab disapa Ririen Binti tersebut meyakini masyarakat dan warga jemaat tidak akan mudah terpengaruh oleh tuduhan yang beredar karena telah mengenal kehidupan serta integritas Pdt Memey.

“Kami warga GKE dan masyarakat yang mengenal beliau, sangat mengetahui bagaimana kehidupan sang pendeta, yang tidak aneh-aneh dan fokus dalam tugas pelayanannya sebagai hamba Tuhan,” ujarnya.

Ririen juga meminta pihak-pihak yang berada di balik penyebaran informasi tersebut segera menghentikan aksinya. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap Pdt Memey dan anaknya tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut.

“Agar para pelaku menghentikan aksi jahatnya, karena di balik lemahnya seorang pendeta perempuan, ada tangan kuat yang selalu menyertai dan melindungi, yakni Tuhan Yesus, yang tidak diam ketika hamba-Nya terus diserang tanpa dasar,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa penyebaran tuduhan melalui media sosial dapat membawa konsekuensi serius terhadap reputasi dan kehidupan pribadi seseorang. Pihak-pihak yang merasa dirugikan berhak menempuh jalur hukum, sementara kebenaran tuduhan tetap perlu dibuktikan melalui proses yang berwenang. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

61,5 Persen Anak Muda Gunakan Pinjol dan Paylater, Mayoritas untuk Bertahan Hidup

DCNews, Jakarta — Tekanan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi salah...

Harga Emas Antam Naik Rp5.000 pada 2 November 2026, Buyback Tembus Rp2,286 Juta per Gram

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan PT Aneka Tambang...

48 Persen Pengguna Kredit Pertama dan Penerima Kredit Usaha adalah Perempuan

DCNews, Jakarta — Perempuan semakin memanfaatkan layanan pembiayaan digital...

Menteri P2MI Mukhtarudin: Pelindungan PMI Harus Menyeluruh, dari Sebelum Bekerja hingga Pulang

DCNews,.Hong Kong — Sebanyak 186.008 warga negara Indonesia (WNI)...