DCNews, Jakarta — Tekanan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu alasan utama anak muda di Indonesia menggunakan pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater. Survei Nasional Muda Bicara ID menunjukkan, 61,5 persen anak muda pernah menggunakan kedua layanan keuangan digital tersebut dalam enam bulan terakhir, dengan kebutuhan hidup sebagai alasan paling dominan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan utang digital tidak selalu didorong keinginan konsumtif. Sebagian anak muda justru mengandalkannya untuk memenuhi kebutuhan dasar, menghadapi pengeluaran mendadak, hingga membayar kewajiban keuangan lainnya.
Survei yang dilakukan pada 15 September hingga 10 Oktober 2026 itu mencatat, sebanyak 38,5 persen responden tidak menggunakan pinjol maupun paylater dalam enam bulan terakhir.
Penelitian melibatkan 800 responden berusia 1–40 tahun dari berbagai wilayah di Indonesia. Pengumpulan data menggunakan metode kuantitatif melalui kuesioner Computer-Assisted Self-Interviewing (CASI), yang dilengkapi wawancara kualitatif.
Pemilihan sampel dilakukan menggunakan teknik quota sampling dengan pendekatan non-probability sampling.
Berdasarkan alasan penggunaan, sebanyak 32,10 persen responden mengaku memanfaatkan pinjol atau paylater untuk bertahan hidup. Persentase ini menjadi yang tertinggi dibandingkan alasan lainnya.
Selanjutnya, 25,30 persen responden menggunakan layanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan primer yang tidak terduga, termasuk biaya medis. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan mendasar dan pengeluaran darurat menjadi faktor penting yang mendorong anak muda mengakses pembiayaan digital.
Alasan berikutnya adalah membayar tagihan lain, yang dipilih oleh 21,20 persen responden. Penggunaan pinjaman untuk menutup kewajiban keuangan sebelumnya mengindikasikan adanya potensi ketergantungan pada utang apabila tidak disertai kemampuan pembayaran yang memadai.
Sementara itu, faktor gaya hidup menjadi alasan bagi 18,90 persen responden. Adapun 2,50 persen lainnya menyebut alasan di luar kategori tersebut.
Dominannya alasan kebutuhan ekonomi juga berkaitan dengan kondisi pendapatan responden. Survei yang sama menemukan, 40,90 persen anak muda merasa penghasilan mereka belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya tekanan finansial yang dihadapi sebagian generasi muda. Ketika pendapatan tidak mampu mengimbangi kebutuhan hidup, pinjol dan paylater berpotensi menjadi jalan keluar jangka pendek untuk menutup kekurangan keuangan.
Namun, kemudahan memperoleh dana dan menunda pembayaran tidak menghilangkan kewajiban untuk melunasi utang. Penggunaan layanan tersebut secara berulang, terutama untuk membayar kebutuhan dasar atau tagihan sebelumnya, dapat meningkatkan beban finansial apabila tidak diimbangi kemampuan membayar.
Temuan survei ini sekaligus menjadi perhatian bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk melihat penggunaan pinjol dan paylater secara lebih menyeluruh. Persoalannya bukan hanya menyangkut perilaku konsumsi anak muda, tetapi juga kemampuan ekonomi mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perluasan kesempatan kerja yang layak, peningkatan pendapatan, penguatan literasi keuangan, serta pengawasan terhadap penyelenggara layanan pembiayaan digital menjadi bagian penting dari upaya perlindungan konsumen.
Dengan demikian, akses keuangan digital tidak sekadar memberikan kemudahan memperoleh pinjaman, tetapi juga harus diimbangi kondisi ekonomi yang memungkinkan anak muda memenuhi kebutuhan hidup tanpa terus bergantung pada utang. ***

