DCNews, Jakarta — Perempuan semakin memanfaatkan layanan pembiayaan digital untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan mengembangkan usaha. Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo mencatat, perempuan mencakup 48 persen dari masyarakat yang pertama kali memperoleh akses kredit melalui platform tersebut. Proporsi yang sama juga tercatat pada penerima kredit usaha.
Temuan ini memperlihatkan potensi pembiayaan digital dalam memperluas akses perempuan terhadap sumber pendanaan, terutama bagi mereka yang menghadapi kendala ketika mengajukan kredit melalui lembaga keuangan formal. Namun, manfaat akses tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh modal, tetapi juga peluang memperkuat posisi perempuan dalam menentukan keputusan keuangan keluarga.
Selama ini, perempuan masih menghadapi sejumlah hambatan dalam mengakses kredit formal, mulai dari keterbatasan agunan, riwayat kredit, hingga bukti penghasilan. Padahal, peran perempuan dalam kegiatan ekonomi nasional cukup besar, khususnya pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Data Bank Dunia pada 2020 menunjukkan sekitar 60 persen UMKM di Indonesia dimiliki perempuan. Meski demikian, keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi salah satu persoalan yang menghambat pengembangan usaha mereka.
Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan inklusi keuangan harus membuka kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki untuk memperoleh pembiayaan. Menurut dia, kredit yang digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial dapat membantu perempuan mengembangkan usaha sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi.
“Sejak berdiri pada 2016, Kredivo percaya bahwa inklusi keuangan harus memberikan kesempatan yang setara, termasuk bagi laki-laki maupun perempuan untuk mengakses pembiayaan. Akses kredit yang sesuai kebutuhan dan kemampuan dapat menjadi salah satu enabler bagi perempuan untuk mengembangkan usaha, memperkuat kemandirian ekonomi, hingga berdampak pada kesejahteraan keluarga,” ujar Indina melalui siaran pers, Jumat (30/10/2026).
Akses Kredit Pertama Meningkat 10 Kali Lipat
Perluasan pembiayaan digital juga tercermin dari peningkatan jumlah masyarakat yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo. Laporan tersebut mencatat jumlahnya meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan 2019.
Pemanfaatan kredit untuk kegiatan produktif turut menunjukkan perkembangan. Sepanjang 2025, sebanyak 54 persen kredit yang disalurkan Kredivo digunakan untuk kebutuhan produktif. Sementara itu, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit untuk modal usaha meningkat hingga 15 kali lipat dibandingkan 2019.
Dari kelompok penerima kredit usaha tersebut, 48 persen di antaranya merupakan perempuan. Angka ini menunjukkan pembiayaan digital mulai dimanfaatkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi dan pengembangan usaha.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), Paksi Walandouw, menilai akses kredit dapat memengaruhi kemampuan perempuan dalam mengelola sumber daya ekonomi dan menentukan keputusan finansial.
“Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Kredivo turut memperluas akses kredit bagi perempuan, dengan 48 persen pengguna yang pertama kali mengakses kredit melalui Kredivo adalah perempuan. Hal ini menjadi indikasi positif bagi inklusi keuangan, mengingat akses terhadap sumber daya ekonomi dapat memengaruhi posisi tawar perempuan, baik dalam keluarga maupun aktivitas ekonomi yang lebih luas,” kata Paksi.
Menurut Paksi, keberhasilan inklusi keuangan tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang memperoleh akses pembiayaan. Lebih jauh, perlu dilihat sejauh mana akses tersebut meningkatkan kemampuan perempuan mengelola sumber daya, menentukan pilihan ekonomi, serta terlibat dalam pengambilan keputusan rumah tangga.
Literasi Keuangan Penting untuk Cegah Risiko Utang
Di tengah meningkatnya akses pembiayaan digital, kemampuan masyarakat memahami risiko kredit menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Kemudahan memperoleh pinjaman harus diimbangi pemahaman mengenai kebutuhan pembiayaan, kemampuan membayar cicilan, serta konsekuensi apabila kewajiban pembayaran tidak terpenuhi.
Laporan Kredivo mencatat sebanyak 65,7 persen penggunanya masuk kategori well-literate atau memiliki tingkat pemahaman keuangan yang baik. Perusahaan juga menyatakan menerapkan prinsip responsible lending atau penyaluran pinjaman secara bertanggung jawab.
Untuk memperkuat pemahaman masyarakat, Kredivo menjalankan sejumlah program edukasi keuangan, antara lain Generasi Djempolan, Kredinspirasi, #AutoMikir, #AndaiAndaPandai, dan KrediCast. Program-program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan keuangan dan penggunaan kredit.
Indina menegaskan, perluasan akses pembiayaan harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi keuangan. Dengan demikian, masyarakat tidak sekadar memperoleh kemudahan meminjam, tetapi juga memahami cara menggunakan fasilitas kredit secara bijak.
“Semakin luas akses yang terbuka, semakin penting memastikan pertumbuhannya tetap sehat. Karena itu, perluasan inklusi perlu berjalan beriringan dengan literasi keuangan dan penerapan responsible lending, agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap kredit, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak sesuai kebutuhan dan kemampuan finansialnya,” ujarnya.
Temuan tersebut menunjukkan pembiayaan digital berpotensi menjadi salah satu instrumen pendukung kemandirian ekonomi perempuan. Namun, peningkatan akses kredit perlu diikuti penggunaan dana untuk kegiatan produktif, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta perlindungan konsumen agar kemudahan pembiayaan tidak justru berujung pada beban utang yang sulit dikendalikan. ***

