Pinjol: Jangan Tukar Kebutuhan Hari Ini dengan Masalah Esok Hari

Date:

Oleh: Asep Dahlan Konsultan Keuangan sekaligus Pendiri Dahlan Consultant

Saya sering mengatakan kepada masyarakat yang berkonsultasi soal keuangan: utang itu tidak pernah hilang hanya karena uang sudah cair. Utang justru mulai menjadi masalah ketika uang tersebut diterima.

Kalimat ini penting karena cara kita memandang pinjaman online atau pinjol sering kali keliru. Kita terlalu terpukau pada kecepatan pencairan, tetapi lupa menghitung kecepatan utang itu menggerus kemampuan finansial kita.

Hari ini teknologi memungkinkan seseorang mengajukan pinjaman hanya melalui telepon seluler. Tidak perlu antre, tidak perlu datang ke kantor, dan prosesnya relatif cepat. Bagi sebagian orang, ini memang membantu.

Tetapi saya ingin mengingatkan: kemudahan memperoleh utang jangan sampai membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengatakan tidak.

Sebab persoalan terbesar pinjol bukan semata-mata pada teknologinya. Persoalannya ada pada keputusan manusia di balik layar.

Ketika Utang Menjadi Jalan Pintas

Saya melihat ada kecenderungan yang perlu kita waspadai. Ketika kebutuhan muncul, pinjaman sering menjadi pilihan pertama, bukan pilihan terakhir.

Butuh uang untuk kebutuhan konsumsi? Pinjam.

Tagihan jatuh tempo? Pinjam lagi.

Utang sebelumnya belum lunas? Cari pinjaman baru.

Di sinilah lingkaran masalah dimulai.

Pinjaman baru untuk membayar pinjaman lama bukanlah solusi keuangan. Itu hanya memindahkan tekanan dari hari ini ke hari berikutnya.

Selama pendapatan tidak bertambah dan pola pengeluaran tidak berubah, utang baru hanya memperpanjang masalah. Bahkan bisa memperbesar beban karena setiap pinjaman memiliki biaya dan kewajiban yang harus dibayar.

Karena itu, saya lebih khawatir terhadap perilaku gali lubang tutup lubang daripada sekadar besarnya pinjaman seseorang.

Jangan Tertipu oleh Angka yang Masuk Rekening

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah peminjam hanya melihat uang yang diterima.

Misalnya, ketika sejumlah dana masuk ke rekening, yang terpikir adalah, “Masalah saya selesai.”

Padahal sebenarnya baru dimulai.

Yang harus dihitung bukan berapa uang yang diterima, tetapi berapa total uang yang harus dikembalikan.

Bunga, biaya, tenor, denda, dan kewajiban lainnya harus dibaca sebelum menyetujui pinjaman. Jangan menandatangani atau menyetujui sesuatu yang tidak kita pahami hanya karena sedang membutuhkan uang.

Dalam pengelolaan keuangan, kebutuhan mendesak tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berpikir rasional.

Justru ketika sedang terdesak, kita harus semakin berhati-hati.

Pinjol Ilegal: Jangan Karena Butuh, Data Pribadi Dikorbankan

Risiko menjadi jauh lebih serius ketika masyarakat berhadapan dengan pinjaman online ilegal.

Tawaran pencairan cepat dan persyaratan mudah memang menggiurkan. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa uang dapat dicari kembali, sementara kerusakan akibat penyalahgunaan data pribadi belum tentu mudah diperbaiki.

Nomor telepon, identitas, foto, dokumen, hingga informasi pribadi lainnya harus diperlakukan sebagai aset yang harus dilindungi.

Jangan memberikan akses data secara sembarangan hanya karena sebuah aplikasi menjanjikan uang cepat.

Sebelum meminjam, periksa legalitas penyelenggara melalui kanal resmi Otoritas Jasa Keuangan. Jangan percaya begitu saja pada iklan, pesan WhatsApp, tautan yang dikirim orang lain, atau testimoni yang belum jelas sumbernya.

Penagihan Boleh, Intimidasi Jangan

Saya juga ingin menegaskan satu hal.

Orang yang memiliki utang memang memiliki kewajiban untuk membayar. Tetapi kewajiban membayar utang tidak berarti seseorang kehilangan hak atas perlindungan dan perlakuan yang wajar.

Penagihan yang dilakukan dengan ancaman, intimidasi, atau penyebaran data pribadi bukanlah praktik yang dapat dibenarkan.

Di sisi lain, masyarakat juga harus jujur kepada dirinya sendiri. Jangan menggunakan perlindungan konsumen sebagai alasan untuk menghindari kewajiban yang memang sah.

Hak harus dihormati, kewajiban juga harus dipenuhi.

Itulah keseimbangan yang seharusnya dibangun dalam ekosistem keuangan digital.

Kalau Cicilan Mengganggu Dapur, Berarti Sudah Terlalu Banyak

Ada ukuran sederhana yang sering saya gunakan ketika berbicara soal utang: jangan sampai cicilan mengambil ruang kebutuhan pokok keluarga.

Ketika cicilan mulai membuat seseorang kesulitan membeli makanan, membayar pendidikan anak, memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau membayar kewajiban dasar lainnya, itu tanda bahwa struktur keuangannya sudah tidak sehat.

Jangan menunggu sampai rekening kosong baru menyadari bahwa utang sudah terlalu besar.

Kita harus berani berhenti.

Berhenti mengambil pinjaman baru. Berhenti mengejar gaya hidup yang tidak sesuai dengan pendapatan. Dan mulai menghitung ulang seluruh kewajiban.

Tidak ada kehormatan dalam mempertahankan gaya hidup dengan menambah utang.

Literasi Keuangan Bukan Sekadar Tahu Istilah

Menurut saya, literasi keuangan tidak cukup hanya dengan mengetahui apa itu bunga, cicilan, pinjaman, investasi, atau tabungan.

Literasi keuangan yang sesungguhnya adalah kemampuan menahan diri ketika sebuah keputusan finansial berpotensi merugikan masa depan.

Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kita juga harus mampu mengatakan: “Saya belum mampu membeli ini.”

Kalimat sederhana tersebut justru bisa menyelamatkan kondisi keuangan seseorang.

Sebab masalah keuangan sering kali bukan karena pendapatan terlalu kecil semata. Banyak orang mengalami kesulitan karena pengeluaran tidak pernah disesuaikan dengan kemampuan pendapatan.

Sebelum Klik “Ajukan Pinjaman”, Berhenti Sebentar

Saya menyarankan siapa pun yang hendak menggunakan pinjaman online untuk berhenti sejenak dan menjawab lima pertanyaan.

Apa kebutuhan saya?

Apakah kebutuhan itu benar-benar mendesak?

Berapa total yang harus saya kembalikan?

Dari mana cicilan akan dibayar?

Apakah penyelenggaranya legal dan ketentuannya sudah saya pahami?

Kalau satu saja jawabannya tidak jelas, jangan terburu-buru menekan tombol “ajukan pinjaman”.

Satu klik mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Tetapi konsekuensinya bisa mengikuti kita berbulan-bulan.

Pada akhirnya, saya tidak ingin masyarakat memusuhi pinjol. Saya juga tidak ingin masyarakat menganggap semua pinjaman sebagai sesuatu yang buruk.

Yang harus kita lawan adalah ketidaktahuan, keputusan impulsif, pinjaman ilegal, dan kebiasaan menjadikan utang sebagai solusi permanen.

Teknologi seharusnya membuat kehidupan finansial lebih mudah, bukan membuat masyarakat semakin mudah terjebak.

Karena itu, sebelum bertanya “Di mana saya bisa mendapatkan pinjaman?”, lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah saya benar-benar membutuhkan utang?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin terasa tidak menyenangkan.

Tetapi dalam banyak kasus, justru pertanyaan itulah yang dapat menyelamatkan masa depan keuangan kita. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Indonesia Bangun Ekosistem Pasar Karbon, OJK Soroti Tantangan Pembiayaan dan Integrasi

DCNews, Jakarta — Indonesia tengah membangun ekosistem nilai ekonomi...

BKSAP DPR Gandeng Kampus Perkuat Diplomasi Indonesia, Bidik Isu AI hingga OECD

DCNews, Tangerang — Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR...

OJK Hentikan 951 Pinjol Ilegal hingga September 2026, Laporan Aktivitas Keuangan Ilegal Tembus 38.438

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan 951...

Harga Emas Antam Turun Rp10.000 Jadi Rp2,57 Juta per Gram, Ini Daftar Harga Terbarunya

DCNews, Jakarta – Harga emas batangan PT Aneka Tambang...