DCNews, Jakarta — Harga emas kembali bergerak melemah pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Penurunan terjadi hampir di seluruh penyedia emas batangan, mulai dari Pegadaian, Lakuemas hingga Logam Mulia. Koreksi harga ini menjadi perhatian pelaku pasar karena membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi maupun menambah kepemilikan logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pelemahan harga terjadi pada berbagai jenis produk emas di Pegadaian, baik Galeri24, Antam, maupun UBS. Penyesuaian harga juga terlihat pada harga beli dan harga jual emas di Lakuemas, serta daftar harga terbaru yang dirilis Logam Mulia.
Di Pegadaian, emas Galeri24 ukuran 0,5 gram dijual Rp1.357.000, sementara ukuran 1 gram dibanderol Rp2.587.000 dan ukuran 2 gram dipasarkan seharga Rp5.110.000.
Untuk emas Antam, harga ukuran 0,5 gram tercatat Rp1.413.000. Sementara emas 1 gram dijual Rp2.720.000 dan ukuran 2 gram dipasarkan Rp5.377.000.
Adapun emas UBS di Pegadaian dijual Rp1.405.000 untuk ukuran 0,5 gram. Harga emas 1 gram berada di level Rp2.599.000, sedangkan ukuran 2 gram dipasarkan Rp5.157.000.
Di Lakuemas, harga beli emas berada di level Rp2.431.000 per gram, sedangkan harga jual tercatat Rp2.358.000 per gram.
Sementara itu, Logam Mulia menetapkan harga emas ukuran 0,5 gram sebesar Rp1.357.500. Untuk ukuran 1 gram dipasarkan Rp2.615.000, sedangkan ukuran 2 gram dijual Rp5.170.000.
Meski harga emas sedang mengalami koreksi, logam mulia masih menjadi salah satu instrumen investasi yang dinilai mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Investor tetap disarankan mempertimbangkan tujuan investasi, kondisi keuangan, serta tidak hanya berpatokan pada pergerakan harga harian sebelum mengambil keputusan.
Analisis Dahlan Consultant
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai penurunan harga emas justru dapat menjadi kesempatan bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Menurut Asep, fluktuasi harga emas merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti pergerakan nilai tukar dolar AS, kebijakan suku bunga bank sentral, hingga kondisi geopolitik global. Karena itu, investor tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan penurunan harga dalam satu hari.
“Strategi yang lebih tepat adalah membeli secara bertahap (dollar cost averaging) sehingga harga rata-rata investasi menjadi lebih efisien. Emas tetap relevan sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) dan bagian dari diversifikasi portofolio, bukan untuk mengejar keuntungan jangka pendek,” ujar Asep Dahlan.
Ia juga mengingatkan agar porsi investasi emas disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Dengan strategi yang disiplin dan berorientasi jangka panjang, penurunan harga seperti saat ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk membangun aset secara bertahap, bukan sebagai alasan untuk melakukan spekulasi sesaat. ***

