DCNews, Jakarta – Di tengah gema takbir Iduladha 1447 Hijriah yang menggema di berbagai penjuru negeri, khutbah di Masjid Al Maqari Provinsi Riau justru menghadirkan kritik tajam terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Persoalan kemiskinan, maraknya pinjaman online (pinjol), hingga melemahnya fungsi sosial masjid menjadi sorotan utama dalam khutbah yang disampaikan pada Rabu (27/5/2026) pagi.
Khatib Salat Iduladha, Ustaz Dr. Abdulhaque SE MSy PhD, menilai ketahanan ekonomi umat Islam saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Di hadapan ribuan jemaah, ia menyebut fenomena menjamurnya pinjaman online sebagai ancaman serius yang perlahan menggerus stabilitas sosial masyarakat, termasuk di kalangan tenaga pendidik.
“Takbirnya keras, tapi pinjolnya deras. Masjid besar, tapi ekonomi masyarakat lemah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 42 persen guru terjerat pinjaman online. Kondisi ini menjadi gambaran nyata lemahnya ketahanan ekonomi kita, padahal umat ini harus kuat baik secara iman maupun ekonomi,” ujar Abdulhaque dalam khutbahnya.
Ia menyoroti ironi yang terjadi di tengah masyarakat Muslim, ketika rumah ibadah berdiri megah namun sebagian jemaah masih terjebak dalam tekanan ekonomi dan utang berbunga tinggi. Menurutnya, akses cepat terhadap dana pinjaman digital kini justru lebih mudah diperoleh masyarakat dibandingkan bantuan ekonomi berbasis komunitas masjid.
Abdulhaque juga mengkritik maraknya iklan pinjaman online dan judi online yang terus membanjiri ruang digital. Promosi tersebut, kata dia, muncul hampir di seluruh platform internet, mulai dari media sosial hingga sela-sela tayangan video keagamaan.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi pengurus rumah ibadah agar memperkuat kembali fungsi sosial masjid, bukan hanya sebagai pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Sebagai solusi, Abdulhaque mendorong pembentukan Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) yang dapat berfungsi sebagai lembaga keuangan mikro berbasis syariah. Skema itu diharapkan mampu membantu jemaah keluar dari jeratan utang sekaligus memperkuat ekonomi komunitas secara kolektif.
“Jangan sampai masyarakat lebih cepat menemukan solusi dari aplikasi pinjol dibanding dari kas masjid. Ini harus menjadi evaluasi bersama,” katanya.
Selain itu, ia juga mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan finansial untuk memperluas praktik wakaf produktif sebagai instrumen penguatan ekonomi umat. Menurutnya, semangat Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum mengikis kecintaan berlebihan terhadap harta benda.
“Makna berkurban adalah menghilangkan kecintaan kita kepada makhluk dan harta benda, lalu menyisakan cinta hanya kepada Allah SWT,” ujarnya.
Di akhir khutbah, Abdulhaque turut mengingatkan pentingnya menjaga salat lima waktu sebagai fondasi utama kehidupan umat Islam. Ia menyayangkan masih minimnya jumlah jemaah salat subuh di masjid, meski antusiasme masyarakat saat perayaan hari besar keagamaan tetap tinggi.
“Barang siapa mudah menjaga salatnya, maka ia akan mudah menjalankan perintah Allah yang lain,” pungkasnya. ***

