DCNews, California – Investor OpenAI mempertanyakan valuasi fantastis US$852 miliar perusahaan tersebut di tengah pergeseran strategi ke pasar enterprise yang penuh tekanan kompetitif dari Anthropic dan Google, menurut laporan Financial Times pada Selasa (14/4/2026), memicu kekhawatiran jelang potensi IPO akhir tahun ini.
Di balik gemerlap pendanaan raksasa US$122 miliar yang baru saja ditutup—terbesar dalam sejarah Silicon Valley—sejumlah backer OpenAI mulai angkat suara. Dipimpin Amazon, Nvidia, SoftBank, Andreessen Horowitz, MGX Abu Dhabi, dan T. Rowe Price, putaran dana itu sempat mendorong valuasi melonjak.
Namun, perubahan roadmap produk dua kali dalam enam bulan terakhir, akibat ancaman dari Google dan Anthropic, membuat investor ragu akan koherensi strategi.
Pivot Enterprise Hadapi Tekanan Kompetitif
Sam Altman, CEO OpenAI, menegaskan akhir 2025 bahwa penjualan AI ke bisnis jadi prioritas 2026, menyebutnya “masalah aplikasi, bukan pelatihan.” Perusahaan merekrut chief revenue officer baru, luncurkan layanan konsultasi pasca-penjualan, dan perkuat kemitraan dengan ServiceNow.
Meski begitu, pasar enterprise AI kian sengit; analis Financial Times prediksi pertumbuhan pendapatan Anthropic bakal lampaui OpenAI, sementara survei The Verge ungkap investor lebih pilih Anthropic. Google, lewat model Gemini, sudah integrasikan AI ke cloud dan Workspace-nya, jadi lapisan default bagi pelanggan korporat.
Ketidakpastian IPO Perburuk Kekhawatiran
Gesekan internal makin memanas soal jadwal IPO. CFO Sarah Friar dikabarkan khawatir dengan dorongan Altman untuk go public akhir 2026, sebab organisasi belum siap hadapi pengawasan pasar modal. Biaya server AI yang membengkak dan proyeksi rugi hingga 2030 jadi sorotan, ditambah komitmen belanja infrastruktur AI US$600 miliar dalam lima tahun.
Sedang di Wall Street, rasio harga terhadap penjualan OpenAI (28 kali proyeksi 2026) jauh di atas Nvidia (12 kali), memicu spekulasi apakah model canggihnya cukup jadi pondasi pendapatan stabil.
“OpenAI harus buktikan strategi enterprise-nya bukan sekadar janji,” ujar analis Wedbush Securities Dan Ives.
Apakah valuasi itu bertahan tergantung kemampuan ubah pivot yang masih bergejolak jadi revenue tahan lama. ***

