DCNews, Jakarta — Pasar keuangan global bergerak volatil pada akhir perdagangan pekan ini, Sabtu (7/3/2026), dipicu lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas dan dolar AS, sekaligus menekan pasar saham global terutama sektor teknologi di Amerika Serikat.
Lonjakan harga energi menjadi faktor dominan yang membentuk sentimen pasar pada perdagangan Jumat (6/3). Ketidakpastian geopolitik memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Emas Menguat karena Permintaan Safe Haven
Harga emas dunia bergerak menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai. Investor cenderung memindahkan dana dari aset berisiko ke komoditas safe haven ketika ketidakpastian global meningkat.
Penguatan emas juga didukung oleh volatilitas pasar saham dan kekhawatiran terhadap inflasi energi. Dalam kondisi seperti ini, emas sering dianggap sebagai instrumen penyimpan nilai yang relatif stabil.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Sementara itu, harga minyak mentah mencatat kenaikan signifikan. Minyak mentah global mendekati kisaran US$90 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi dunia.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat produksi energi global. Ketidakpastian terhadap jalur distribusi energi internasional membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan.
EUR/USD Tertekan oleh Penguatan Dolar
Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD mengalami tekanan karena penguatan dolar AS. Mata uang Amerika Serikat mendapat dukungan dari arus dana global yang mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah gejolak pasar.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan pasangan mata uang ini.
GBP/USD Mengikuti Tren Pelemahan
Pergerakan GBP/USD juga cenderung melemah seiring dominasi dolar di pasar global. Pound sterling menghadapi tekanan karena investor meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Selain sentimen global, pelaku pasar juga mencermati prospek ekonomi Inggris serta kebijakan moneter Bank of England yang masih menghadapi tantangan inflasi.
USD/JPY Menguat
Pasangan USD/JPY menunjukkan kecenderungan menguat karena penguatan dolar terhadap yen Jepang. Arus modal global yang mengalir ke dolar membuat yen relatif melemah meskipun masih dipandang sebagai salah satu mata uang safe haven.
Perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve dan Bank of Japan juga memengaruhi dinamika pasangan mata uang ini.
Nasdaq Terkoreksi
Di pasar saham, indeks teknologi Amerika Serikat, Nasdaq, ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan. Tekanan datang dari kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Kondisi tersebut memicu aksi jual pada saham teknologi yang selama ini sensitif terhadap perubahan sentimen pasar dan kondisi makroekonomi global.
Analisis Pasar
Secara keseluruhan, pasar global saat ini bergerak dalam pola risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman seperti emas dan dolar AS. Lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan stabilitas ekonomi.
Jika ketegangan geopolitik terus meningkat, volatilitas pasar diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, apabila situasi mereda dan pasokan energi kembali stabil, pasar saham berpotensi pulih dan aset berisiko kembali diminati investor. ***

