Asep Dahlan: Ramadan Jadi Periode Sibuk Debt Collector Pinjol dan Paylater

Date:

DCNews, Jakarta — Telepon berdering sejak pagi, pesan singkat masuk bertubi-tubi, hingga ancaman kunjungan ke rumah menjadi gambaran yang kerap menghantui sebagian peminjam saat Ramadan tiba. Di tengah suasana bulan suci yang seharusnya tenang dan khusyuk, aktivitas penagihan pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater justru tetap berjalan tanpa jeda.

Bagi nasabah dengan cicilan aktif, Ramadan tidak menghadirkan “libur” dari kewajiban pembayaran. Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, mengingatkan bahwa tidak ada istilah penghentian penagihan selama bulan puasa. Bahkan, menurutnya, periode menjelang Lebaran menjadi salah satu masa paling sibuk bagi debt collector (DC).

“Tim penagihan tahu banyak orang menerima tambahan penghasilan seperti Tunjangan Hari Raya (THR). Mereka akan berupaya agar tagihan didahulukan pembayarannya,” ujarnya.

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya transaksi belanja selama Ramadan, terutama di platform e-commerce dan layanan kredit digital. Fitur S-Pinjam dan Shopee Paylater milik Shopee disebut menjadi salah satu yang paling banyak digunakan.

Lonjakan belanja kebutuhan puasa dan persiapan Lebaran mendorong penggunaan paylater, yang pada akhirnya meningkatkan risiko gagal bayar.
Platform kredit digital lain seperti Akulaku juga memiliki jaringan penagihan yang tersebar di berbagai kota.

“Penagihan dilakukan mulai melalui pesan singkat, panggilan telepon, hingga kunjungan langsung ke alamat debitur,” sebut pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu, sembari menambahkan seperi Kredivo menjalankan proses penagihan sesuai standar operasional prosedur (SOP) perusahaan.

Tren belanja daring melalui media sosial turut mendorong peningkatan penggunaan fitur paylater di TikTok. Seiring naiknya transaksi, potensi keterlambatan pembayaran pun ikut meningkat.

Perusahaan pembiayaan seperti Home Credit Indonesia juga tetap menjalankan proses penagihan melalui jaringan mitra dan tenaga lapangan, sebagaimana praktik reguler di luar Ramadan.

Kang Dahlan menegaskan, tambahan pemasukan seperti THR seharusnya tidak dianggap sebagai “uang bebas pakai”. Ia menyarankan masyarakat menyusun anggaran Ramadan secara realistis, memprioritaskan kewajiban cicilan, dan menghindari penggunaan paylater untuk kebutuhan konsumtif yang tidak mendesak.

“Ramadan mestinya jadi momentum memperbaiki kondisi keuangan, bukan menambah beban baru,” katanya.

Di tengah meningkatnya aktivitas konsumsi musiman, disiplin finansial menjadi kunci agar bulan suci tidak berubah menjadi sumber kecemasan ekonomi setelah hari raya usai. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Habib Aboe Bakar Silaturahmi dengan 18 Ulama di Madura

DCNews, Madura — Polemik yang sempat berkembang antara anggota...

Fakta Baru Pembunuhan di Lampung Selatan, Ternyata Pelaku Terjerat Pinjol dan Judi Online

DCNews, Lampung Selatan — Suara teriakan minta tolong yang...

Posisi Strategis Sekretaris Kabinet

Oleh: Fahri Hamzah (Wakil Menteri PKP, juga Wakil Ketua...

Akses Diskusi DPR Disebut Tertutup, TB Hasanuddin Soroti Minimnya Kehadiran Menhan dan Menlu

DCNews, Jakarta — Anggota Komisi I DPR RI dari...