DCNews, Jakarta— Di tengah gaya hidup serba cepat dan tekanan sosial yang kian kuat di ruang digital, kemudahan akses pinjaman online (pinjol) menjelma menjadi ibarat pedang bermata dua bagi generasi Z. Di satu sisi, layanan keuangan digital menawarkan solusi dana instan dalam hitungan menit. Namun di sisi lain, kemudahan itu berpotensi menyeret anak muda ke dalam pusaran utang konsumtif yang membebani masa depan finansial mereka.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan sekitar 80 persen Gen Z menjadikan faktor kemudahan sebagai pertimbangan utama saat mencari pinjaman online. Proses pengajuan yang praktis, tanpa tatap muka, serta pencairan dana yang cepat dinilai lebih menarik dibandingkan meminjam kepada keluarga atau teman.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa 58 persen Gen Z menggunakan layanan pinjol untuk kebutuhan konsumtif dan gaya hidup.
“Sekitar 80 persen Gen Z mengutamakan kemudahan mendapatkan dana saat membutuhkan sesuatu. Dibanding meminjam kepada teman yang belum tentu memberi, mereka kini lebih memilih mengajukan pinjaman melalui aplikasi pinjol karena dinilai lebih praktis,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Fenomena ini, menurut Friderica, tidak lepas dari tekanan sosial yang membentuk perilaku finansial generasi muda. Keinginan mengikuti tren, mulai dari gawai terbaru hingga fesyen terkini, kerap memicu rasa tidak percaya diri. Dorongan untuk tampil setara dengan lingkungan pergaulan akhirnya mendorong sebagian anak muda mengambil jalan pintas melalui pinjol maupun layanan paylater tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang.
“Di usia Gen Z, komentar seperti ‘kok handphone-nya jadul?’ atau ‘kok bajunya itu-itu saja?’ bisa memicu rasa insecure. Dari situ muncul keputusan yang berisiko dan membahayakan,” katanya.
Situasi tersebut memperlihatkan paradoks era digital: generasi yang paling melek teknologi justru menghadapi tantangan besar dalam literasi keuangan. Tanpa pemahaman memadai mengenai bunga, denda, dan konsekuensi gagal bayar, kemudahan teknologi bisa berubah menjadi jebakan utang yang menumpuk.
OJK mengingatkan agar generasi muda lebih cermat mengelola keuangan dan tidak mudah tergoda menggunakan pinjol untuk kebutuhan yang tidak mendesak. Peningkatan literasi keuangan dan pemahaman risiko disebut menjadi kunci agar Gen Z tidak terperosok dalam utang konsumtif.
“Pesan saya untuk generasi Z, khususnya mahasiswa, penting untuk melek finansial di era digital. Manfaatkan kecakapan digital untuk hal-hal produktif. Kami juga akan terus aktif memberikan edukasi,” tandas Friderica. ***

