FOMO dan Pinjol Menggerus Keuangan Anak Muda: Dosen UIN Datokarama Ingatkan Risiko Jangka Panjang

Date:

DCNews, Palu – Di tengah banjir konten media sosial yang memamerkan gaya hidup serba instan, fenomena fear of missing out (FOMO) dan maraknya pinjaman online kian menempatkan anak muda pada posisi rentan secara finansial. Tekanan untuk “ikut tren” dinilai bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi generasi muda di era digital.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Yuni Amelia, menilai banyak anak muda belum memiliki fondasi literasi keuangan yang memadai untuk menghadapi godaan konsumsi berbasis citra dan pengakuan sosial.

“Anak muda sekarang menghadapi tekanan besar dari media sosial. Melihat teman ganti ponsel, nongkrong, atau liburan, akhirnya muncul dorongan untuk ikut-ikutan,” ujar Yuni dalam program Sore Ceria PRO 2 Palu, Selasa (27/1/2026).

Menurut Yuni, dorongan tersebut kerap mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan. Akibatnya, keputusan finansial diambil secara impulsif, tanpa perhitungan kemampuan ekonomi maupun risiko jangka panjang.

Ia mencontohkan sejumlah mahasiswa yang harus mengambil cuti kuliah karena kesulitan membayar biaya pendidikan, namun pada saat yang sama tetap mempertahankan pola konsumsi yang tidak sebanding dengan kondisi keuangan mereka.

“Ini bukan semata soal tidak punya uang, tetapi tidak punya perencanaan. Pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus sering dianggap sepele, padahal akumulasinya bisa sangat besar,” kata Yuni.

Situasi tersebut diperparah oleh kemudahan akses pinjaman online yang menawarkan solusi cepat tanpa edukasi risiko yang memadai. Yuni menilai, banyak anak muda terjebak ilusi bahwa masalah keuangan bisa diselesaikan secara instan.

“Pinjamannya memang cepat cair, tapi risikonya panjang. Ada yang berpikir bisa selesai dengan ganti nomor, padahal data pribadi sudah terlanjur tersebar,” ujarnya.

Ia menegaskan, literasi keuangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa pemahaman yang cukup, anak muda berpotensi terjebak dalam lingkaran utang, tekanan psikologis, dan keterbatasan masa depan ekonomi.

“Anak muda harus lebih sadar risiko, tidak mudah terjebak tren, dan mampu mengambil keputusan finansial secara bijak. Ini soal ketahanan hidup, bukan sekadar gaya hidup,” pungkas Yuni. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

BKSAP DPR Dorong Bali Jadi Pelopor Ketahanan Digital dan Etika AI di ASEAN

DCNews, Denpasar — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi...

Persib Bandung Luncurkan Jersey Baru dan Perkenalkan 32 Pemain untuk Musim 2026/2027

DCNews, Bandung — Persib Bandung memasuki musim kompetisi 2026/2027...

RUU Perampasan Aset Dikebut, Fahira Idris Tekankan Pemulihan Aset Kejahatan

DCNews, Jakarta - Pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan...

DPRD Kalteng Dukung Bank Kalteng Kembangkan Paylater untuk Tekan Pinjol Ilegal

DCNews, Palangka Raya — Rencana Bank Kalteng mengembangkan layanan...