— Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk kembali menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pada awal pekan ini, seiring lonjakan harga emas dunia yang dipicu pelemahan data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Senin (12/1/2026), harga emas Logam Mulia Antam naik Rp29.000 menjadi Rp2.631.000 per gram, melampaui rekor sebelumnya dan menandai level tertinggi sepanjang masa. Kenaikan serupa juga terjadi pada harga buyback, yang kini berada di Rp2.484.000 per gram, juga naik Rp29.000 dibandingkan perdagangan akhir pekan lalu.
Penguatan harga emas domestik sejalan dengan reli emas global. Hingga pukul 07.57 WIB, harga emas spot dunia tercatat di level US$4.560,1 per troy ons, melonjak 1,1 persen dan mencetak rekor tertinggi baru di pasar internasional.
Lonjakan harga emas dunia ditopang oleh rilis data ketenagakerjaan terbaru Amerika Serikat. US Bureau of Labor Statistics melaporkan penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) pada Desember 2025 hanya mencapai 56.000, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 60.000.
Angka tersebut memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS belum sepenuhnya solid. Kondisi ini membuka ruang bagi Federal Reserve untuk melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Berikut daftar lengkap harga emas Logam Mulia Antam untuk hari ini:

Gubernur The Fed Richmond Tom Barkin menilai data terbaru mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang moderat, dengan aktivitas rekrutmen yang masih terbatas. “Tingkat pengangguran meningkat tahun lalu dan pertumbuhan lapangan kerja masih tergolong sedang,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg News.
Meski dot plot The Fed edisi Desember 2025 mengindikasikan hanya satu kali penurunan suku bunga sepanjang 2026, pelaku pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga bisa terjadi hingga dua kali tahun ini.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah. Selain faktor moneter, sentimen geopolitik juga memperkuat daya tarik logam mulia tersebut.
Ketegangan meningkat di Iran setelah gelombang demonstrasi meluas di sejumlah wilayah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington tidak akan tinggal diam jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan untuk meredam aksi protes.
Pernyataan tersebut langsung direspons keras oleh Teheran. Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa wilayah AS dapat menjadi target sah jika Washington melakukan serangan, sebagaimana dikutip dari Bloomberg News.
Dalam kondisi ketidakpastian global yang meningkat—baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik—emas kembali menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven). Tren ini mendorong minat investor untuk mengamankan portofolio mereka, sekaligus menjaga harga emas tetap berada dalam jalur penguatan. ***

