DCNews, Garut — Proses pembayaran uang ganti rugi (UGR) proyek Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) di Kabupaten Garut kembali bergerak. Pembayaran terbaru senilai Rp47 miliar untuk dua desa menandai fase krusial pengadaan lahan segmen satu, yang selama beberapa tahun terakhir berjalan bertahap akibat keterbatasan pendanaan.
Kepala Seksi Pengadaan Tanah Tol Getaci Badan Pertanahan Nasional (BPN) Garut, Azis Alpasah, dikutip DCNews Sabtu (20/12/2025) mengatakan, pembayaran kali ini mencakup dua desa dengan total 43 bidang lahan.
Dua desa tersebut yakni Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, dengan lima bidang lahan senilai sekitar Rp19 miliar, serta Desa Karangtengah, Kecamatan Kadungora, dengan 38 bidang lahan senilai kurang lebih Rp28 miliar.
Segmen satu Tol Getaci melintasi empat kecamatan di Kabupaten Garut—Kadungora, Leles, Leuwigoong, dan Banyuresmi—serta mencakup 17 desa.
Hingga kini, 11 desa telah menerima pembayaran UGR. Namun, baru lima desa yang telah menuntaskan pembayaran hingga 100 persen, yakni Kandangmukti (Leles), Tambaksari dan Margacinta (Leuwigoong), serta Mandalasari dan Karangmulya (Kadungora).
Menurut Azis, di Desa Karangtengah masih terdapat cukup banyak bidang lahan yang belum dibayarkan. Pembayaran di dua desa ini pun disebut berpotensi menjadi tahap terakhir dalam waktu dekat, seiring terbatasnya alokasi dana.
“Kemungkinan karena kita terpepet kaitan dengan kucuran dana dari LMAN. Pengajuan tetap kami ajukan ke PPK, lalu dari PPK diteruskan ke LMAN,” katanya.
Latar Belakang Proyek Tol Getaci
Tol Getaci merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang dirancang menghubungkan Gedebage (Bandung) hingga Cilacap (Jawa Tengah) dengan panjang keseluruhan mencapai ratusan kilometer. Jalan tol ini dibagi ke dalam beberapa segmen dan dirancang menjadi koridor utama baru di selatan Pulau Jawa, yang selama ini belum memiliki infrastruktur jalan bebas hambatan.
Di Jawa Barat, keberadaan Tol Getaci diharapkan menjadi solusi atas tingginya kepadatan lalu lintas di jalur nasional Bandung–Garut–Tasikmalaya, sekaligus memperpendek waktu tempuh antarwilayah. Segmen Garut menjadi bagian penting karena menghubungkan kawasan industri di Bandung Raya dengan sentra pertanian, pariwisata, dan UMKM di Priangan Timur.
Meski demikian, proyek ini menghadapi tantangan besar, mulai dari skema pembiayaan, minat investor, hingga proses pengadaan lahan yang bergantung pada ketersediaan dana dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).
Dampak Ekonomi bagi Garut dan Sekitarnya
Secara ekonomi, pembangunan Tol Getaci diproyeksikan membawa efek berganda (multiplier effect) bagi Kabupaten Garut dan wilayah sekitarnya. Akses transportasi yang lebih cepat diperkirakan menurunkan biaya logistik, meningkatkan daya saing produk lokal, serta membuka peluang investasi baru di sektor industri pengolahan, pariwisata, dan perdagangan.
Bagi Garut, yang dikenal sebagai sentra pertanian, peternakan, dan destinasi wisata alam, keberadaan jalan tol dinilai dapat memperluas pasar dan mempercepat distribusi hasil produksi. Di sisi lain, pemerintah daerah juga berharap proyek ini mendorong pertumbuhan kawasan ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tanah dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar trase tol.
Namun, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa manfaat ekonomi tersebut baru akan optimal jika pembangunan tol diiringi dengan kesiapan infrastruktur pendukung, seperti akses jalan penghubung, kawasan industri, dan perlindungan terhadap masyarakat terdampak agar tidak tersisih dari arus pembangunan. ***

