DCNews, Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan “balasan yang sangat serius” menyusul serangan bersenjata yang menewaskan dua prajurit Angkatan Darat AS dan seorang penerjemah dalam operasi kontra-terorisme di Suriah. Serangan yang diduga dilakukan militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) itu juga melukai tiga personel Amerika lainnya, mempertegas rapuhnya situasi keamanan di wilayah konflik tersebut.
“Ini adalah serangan ISIS terhadap Amerika Serikat dan Suriah, di wilayah Suriah yang sangat berbahaya dan belum sepenuhnya berada di bawah kendali. Akan ada balasan yang sangat serius,” tulis Trump melalui akun media sosialnya, yang dikutip Ahad (14/12/2025).
Meski demikian, Trump tidak merinci bentuk respons militer atau diplomatik yang dimaksud. Ia juga menolak memberikan penjelasan tambahan saat ditanya wartawan ketika meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri pertandingan sepak bola tahunan Army–Navy pada Sabtu.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh seorang penembak tunggal yang telah diidentifikasi sebagai anggota ISIS. Pelaku dilaporkan tewas di lokasi kejadian.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan serangan terjadi di Palmyra, sebuah kota strategis di Suriah tengah, saat pasukan AS tengah menjalankan operasi kontra-terorisme. Hingga kini, Palmyra masih berada di luar kendali penuh pemerintahan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.
Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik terbaru antara Washington dan Damaskus. Pada November lalu, Presiden al-Sharaa dilaporkan bertemu Trump di Gedung Putih untuk meminta keringanan tambahan sanksi internasional. Dalam pertemuan tersebut, al-Sharaa berjanji akan bergabung dengan koalisi yang dipimpin AS untuk memberantas sisa-sisa kekuatan ISIS.
Seorang pejabat Pentagon mengatakan, Amerika Serikat saat ini memiliki sekitar 1.000 personel militer yang ditempatkan di Suriah. Identitas para korban belum diumumkan dan akan ditahan setidaknya selama 24 jam hingga keluarga mereka menerima pemberitahuan resmi.
Pasukan AS selama ini bekerja sama dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi untuk memburu sel-sel ISIS yang tersisa, menyusul jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad. Meski kekuatan utama ISIS telah dipukul mundur, kelompok tersebut masih mampu melancarkan serangan mematikan secara sporadis di wilayah yang belum sepenuhnya stabil. ***

