DCNews, Washington — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Dorongan perusahaan besar untuk mengefisiensikan biaya dan mempercepat adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah memicu pemangkasan tenaga kerja dalam skala yang jarang terlihat di luar masa resesi. Indikasi terbaru menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan fondasinya, membuka babak baru ketidakpastian ekonomi.
Riset Goldman Sachs Group Inc., sebagaimana dikutip Business Insider, Jumat (28/11/2025) waktu setempat, mengonfirmasi adanya pelemahan signifikan dalam kondisi ketenagakerjaan. Lonjakan PHK tercermin jelas dari peningkatan tajam dokumen rencana PHK massal (Worker Adjustment and Retraining Notification/WARN) ke level tertinggi sejak 2016—di luar situasi pandemi. Kenaikan ini merupakan yang paling ekstrem dalam hampir satu dekade.
Sejalan dengan itu, firma Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa pengumuman PHK di sektor teknologi, industri manufaktur, hingga makanan, telah mencapai level yang biasanya hanya muncul saat ekonomi berada dalam tekanan berat.
Tren tersebut menandai perubahan mendasar: tenaga kerja manusia semakin terdesak oleh efisiensi otomatisasi dan tekanan untuk merampingkan struktur perusahaan.
Contohnya terlihat pada Amazon.com Inc. yang pada musim gugur lalu mengumumkan pemutusan sekitar 14.000 pekerjaan korporat. Alasan perusahaan jelas: penyederhanaan bisnis dan percepatan integrasi AI. Langkah tersebut menjadi gambaran terang bagaimana prioritas korporasi bergeser secara sistematis.
Ekonom Goldman Sachs, Manuel Abecasis dan Pierfrancesco Mei, memperingatkan risiko besar di balik gelombang PHK yang merayap. Rendahnya tingkat perekrutan membuat pekerja yang tergusur menghadapi jalan terjal untuk kembali mendapatkan pekerjaan layak.
“Peningkatan PHK yang berkelanjutan akan sangat mengkhawatirkan karena tingkat perekrutan untuk pekerja saat ini rendah, dan lebih sulit dari biasanya bagi pengangguran untuk menemukan pekerjaan baru,” tulis keduanya.
Di sisi lain, perusahaan publik semakin terbuka membahas opsi pemangkasan tenaga kerja dalam earnings call bersama pemegang saham—sebuah tanda bahwa rencana PHK tambahan kemungkinan masih bergulir dalam beberapa bulan ke depan.
Goldman Sachs memang mencatat bahwa bukti PHK yang dipicu langsung oleh AI masih terbatas. Namun, pernyataan hati-hati ini justru menunjukkan bahwa banyak perusahaan enggan mengakui peran teknologi dalam mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.
Indikator lainnya juga memunculkan kekhawatiran. Data klaim pengangguran mingguan pemerintah AS tercatat tertinggal sekitar dua bulan dari pelacak PHK sektor swasta. Kondisi ini mengisyaratkan potensi lonjakan angka pengangguran resmi saat musim dingin berlangsung—sebuah bayangan suram bagi pekerja Amerika yang kini berada di bawah tekanan gelombang otomatisasi dan restrukturisasi. ***

