Ancaman terhadap Jurnalis Asia Meningkat: Otoritarianisme dan Dominasi Big Tech Mendominasi Pembahasan di GIJC25

Date:

DCNews, Malaysia — Menguatnya otoritarianisme di Asia dan cengkeraman perusahaan teknologi raksasa menjadi dua ancaman terbesar yang membentuk ulang lanskap jurnalisme di kawasan. Peringatan itu mengemuka dalam panel pembuka Global Investigative Journalism Conference 2025 (GIJC25) di Kuala Lumpur, yang menyoroti bagaimana redaksi kini bekerja dalam iklim yang kian berbahaya, dengan serangan fisik, digital, dan tekanan politik yang semakin terstruktur.

Para editor investigasi senior dari berbagai negara menggambarkan situasi yang suram: anggaran redaksi terus menyusut, ruang kebebasan sipil menyempit, dan jurnalis—terutama perempuan—menjadi target serangan yang makin brutal.

Dari Indonesia, CEO Tempo Digital Wahyu Dhyatmika memaparkan rangkaian teror yang dialami redaksinya setelah menerbitkan laporan investigasi judi online yang menyeret seorang politikus berpengaruh. Salah satu ancaman paling ekstrem datang dalam wujud sebuah kotak berisi kepala babi bertelinga terpotong yang dikirimkan kepada seorang reporter.

“Saya pikir ini salah satu aksi teror paling brutal yang pernah kami terima sepanjang kami bekerja sebagai jurnalis,” ujar Wahyu.

Beberapa minggu setelah laporan itu terbit, situs Tempo Digital diserang DDoS hingga tak bisa diakses. Wahyu menyebut pola ancaman ini sebagai bukti menyusutnya ruang kritik dan meningkatnya represi terhadap media.

Dalam aksi protes besar, lanjutnya, jurnalis foto dan video sering menjadi target aparat. “Mereka akan berusaha menghapus semua rekaman pemukulan polisi terhadap demonstran,” katanya.

Dari Manila, Executive Editor Rappler Glenda Gloria menekankan pentingnya merestorasi kepercayaan publik. Menurutnya, jurnalisme investigatif hanya akan bertahan jika memanfaatkan keterlibatan warga.

“Tidak ada cara yang lebih baik untuk membangun kembali kepercayaan publik selain menunjukkan bahwa reporter benar-benar menindaklanjuti petunjuk dari masyarakat,” ujarnya seraya menyebut kontribusi warga, mulai dar foto, video, hingga petunjuk lapangan, semakin menentukan arah liputan.

Risiko Jurnalist Perempuan

Sementara itu, Gunel Safarova dari Abzas Media, Azerbaijan, mengungkap risiko bagi jurnalis perempuan di negara dengan represi tinggi. Rekan-rekannya dipenjara bertahun-tahun atas dakwaan politik.

“Secara emosional ini berat, karena ketika kolega Anda —yang juga teman Anda— dipenjara, itu tidak adil. Tapi kami berutang kepada mereka,” katanya.

Dari Taiwan, Sherry Lee dari The Reporter menyoroti tekanan militer dan operasi informasi China yang berlangsung tanpa henti. “Yang kami hadapi sekarang bukan perang terbuka. Ini zona abu-abu konflik,” ujarnya.

Panel ditutup dengan peringatan bersama: ancaman terhadap jurnalis di Asia kini tersusun lebih rapi dan sistematis—mulai dari serangan digital, kriminalisasi, hingga intimidasi fisik. Para pembicara sepakat bahwa dalam bayang-bayang otoritarianisme dan dominasi platform besar, jurnalisme investigatif hanya bisa bertahan melalui solidaritas, kolaborasi lintas batas, dan keberanian untuk terus melawan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Puan Buka Masa Sidang DPR, Tekankan Mitigasi Bencana dan Penerapan KUHP Baru

DCNews, Jakarta — Ketua DPR RI Puan Maharani membuka Masa...

Pemerintah Blokir Sementara Grok di Platform X, DPR Desak Moderasi Ketat Konten AI

DCNews, Jakarta — Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan...

Fahri Hamzah Buka Dapur Kekuasaan: Dari DPR ke Eksekutif, Prabowo Dinilai Presiden Paling Mandiri

DCNews, Jakarta — Perpindahan Fahri Hamzah dari dunia parlemen...

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik Kompak, Galeri24 dan UBS Melonjak hingga Rp65 Ribu per Gram

DCNews, Jakarta — Harga emas yang diperdagangkan di Pegadaian...