DCNews,Jakarta — Kondisi keuangan PT Krakatau Steel (KRAS) kembali menjadi sorotan setelah manajemen menyebut perseroan hampir tidak lagi memiliki akses pendanaan normal, bahkan untuk kebutuhan modal kerja dasar. Situasi likuiditas yang terus menurun membuat perusahaan pelat merah itu bergantung pada pemasok eksternal dengan bunga tinggi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.
Managing Director Holding Operasional BPI Danantara, Febriyani Eddy, melalui keterangan persnya di Jakarta, Jumat (14/11/204) mengungkapkan bahwa Krakatau Steel kini berada dalam tahap akhir pembahasan dukungan modal kerja dari Danantara.
Febriyani menegaskan bahwa kondisi keuangan emiten baja tersebut sudah berada pada titik kritis. “Kalau dilihat kondisi keuangannya, tidak baik. Mereka minta dukungan dana dalam bentuk modal kerja. Jumlahnya masih divalidasi, tapi tahap final. Dia [KRAS] tidak bisa pinjam uang lagi layaknya perusahaan-perusahaan lain. Bahkan untuk modal kerja pun tidak ada,” kata Febriyani.
Kondisi yang rapuh ini diperburuk oleh serangkaian insiden kebakaran di fasilitas produksi Hot Strip Mill (HSM) dalam dua tahun terakhir sebelum 2025. Salah satu insiden paling signifikan terjadi pada 5 Mei 2023 di unit HSM1 Cilegon, ketika gangguan akibat korsleting listrik memaksa fasilitas tersebut berhenti beroperasi. Dalam keterbukaan informasi di BEI, KRAS menyebut kerusakan itu berdampak langsung pada kapasitas produksi dan rantai suplai.
Untuk mempertahankan operasional jangka pendek, Krakatau Steel saat ini mengajukan dukungan pendanaan kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Skema yang tengah dibahas adalah Pinjaman Pemegang Saham (SHL) senilai US$250 juta, yang diharapkan dapat memberi ruang bernapas sementara bagi kelangsungan operasional perusahaan. ***

