Harga Emas Dunia Turun di Bawah US$4.000 per Troy Ounce, Tekanan Datang dari Kebijakan Pajak Baru China

Date:

DCNews, Jakarta — Harga emas dunia kembali tergelincir di bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce pada perdagangan Selasa, 4 November 2025. Tekanan muncul setelah pemerintah China mengumumkan kebijakan baru yang mengakhiri potongan pajak lama bagi sejumlah pengecer emas, memicu kekhawatiran pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 06.30 WIB, harga emas spot tercatat di posisi US$3.993,19 per troy ounce, melemah US$8,23 atau 0,24% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan berlanjut sepanjang hari, dengan harga sempat menyentuh US$3.978,82 pada pukul 09.07 WIB dan bergerak di kisaran US$3.983,63 per troy ounce menjelang tengah hari.

Kebijakan baru Beijing menandai berakhirnya kompensasi penuh pajak pertambahan nilai (PPN) untuk beberapa pengecer yang membeli emas dari Bursa Emas Shanghai dan Bursa Berjangka Shanghai. Kini, kompensasi PPN bagi produsen emas non-investasi seperti perhiasan dan produk industri turun menjadi 6% dari sebelumnya 13%. Perusahaan non-anggota bursa juga akan terkena imbas saat menjual emas batangan dan produk investasi lainnya.

“Perubahan pajak di negara konsumen emas terbesar dunia akan menekan sentimen global,” kata Adrian Ash, Direktur Riset BullionVault. Ia menambahkan, meski ada tekanan jangka pendek, pasar London menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan mempertahankan sentimen bullish terhadap emas.

Sementara itu, Citigroup dalam laporannya memperkirakan kebijakan pajak baru tersebut akan mendorong industri untuk menaikkan harga guna menyesuaikan tekanan biaya produksi. Namun analis TD Securities, Dan Ghali, menilai dampak langsungnya terhadap harga global mungkin terbatas, mengingat permintaan grosir emas di Tiongkok pada kuartal sebelumnya sudah turun 28% di bawah rata-rata lima tahunan.

Harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi pada Oktober lalu karena lonjakan pembelian ritel, namun kini menunjukkan volatilitas tinggi. Data Bloomberg menunjukkan kepemilikan produk emas berbasis bursa (ETP) menurun dua pekan berturut-turut, meskipun sepanjang tahun harga emas masih naik lebih dari 50%, didorong permintaan bank sentral dan fungsinya sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.

Di sisi korporasi, momentum harga tinggi telah mendorong aktivitas merger dan akuisisi. Coeur Mining Inc. mengumumkan rencana akuisisi New Gold Inc. senilai sekitar US$7 miliar dalam transaksi saham penuh.

Kinerja Pasar Domestik

Sementara itu, pasar saham Indonesia justru bergerak positif. Pada sesi pertama perdagangan hari ini, IHSG naik 0,25% ke level 8.296,18, memperkuat reli tahunannya yang telah mencatat kenaikan 17,18% sepanjang 2025 (year-to-date).

Pergerakan kontras antara pasar saham dan emas ini mencerminkan sikap investor global yang kini lebih berhati-hati, menanti arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia setelah penguatan dolar AS yang menekan harga komoditas logam mulia. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Telegram Siaga 1 TNI Beredar, Puan Maharani: DPR Akan Minta Klarifikasi

DCNews, Jakarta — Ketua DPR RI Puan Maharani meminta Tentara...

Market Brief 10 Maret 2026: Emas Terkoreksi, Dolar Menguat, Nasdaq Stabil di Tengah Volatilitas Pasar Global

DCNews, Jakarta — Pasar keuangan global pada Selasa (10/3/2026)...

Rieke Nila RUU Satu Data Indonesia, Krusial untuk Kedaulatan Data Nasional

DCNews, Jakarta – Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke...

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 10 Maret 2026 Turun: UBS Rp3,05 Juta dan Galeri24 Rp3,03 Juta per Gram

DCNews, Jalarta — Harga emas batangan yang diperdagangkan melalui...