DCNews, Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia untuk periode September 2025 pada Senin (3/11/2025). Namun, sebelum data resmi diumumkan, sejumlah ekonom memprediksi surplus perdagangan nasional bakal menyempit tajam akibat pelemahan ekspor dan meningkatnya aktivitas impor.
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Permata Institute for Economic Research (PIER), Faisal Rachman, memperkirakan kinerja ekspor Indonesia pada September 2025 akan mengalami kontraksi 4,83 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Kondisi ini diperkirakan membuat surplus neraca perdagangan turun sekitar 41 persen, dari US$5,49 miliar pada Agustus menjadi US$3,19 miliar.
“Surplus perdagangan Indonesia diperkirakan menyempit pada September 2025, didorong oleh melambatnya ekspor dan meningkatnya aktivitas impor seiring pemulihan ekonomi,” ujar Faisal dalam catatannya, dikutip DCNews, Sabtu (1/11/2025).
Meski secara bulanan melemah, Faisal menilai ekspor Indonesia masih tumbuh 7,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Ia menjelaskan, ekspor dari sektor hilirisasi, terutama besi dan baja, tetap menjadi kontributor utama. Selain itu, kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) yang berlanjut juga memberi dorongan tambahan bagi kinerja ekspor nasional.
Di sisi lain, aktivitas impor menunjukkan tren pemulihan. Faisal memperkirakan impor Indonesia akan tumbuh 9,28 persen yoy, berbalik arah dari kontraksi 6,56 persen pada bulan sebelumnya. Secara bulanan, impor juga diprediksi meningkat 5,63 persen mtm, menandakan meningkatnya permintaan dalam negeri.
Jika tren ini terkonfirmasi oleh data resmi BPS, maka periode September 2025 akan menandai penyempitan surplus perdagangan terbesar dalam enam bulan terakhir — sebuah sinyal penting bagi arah stabilitas eksternal dan nilai tukar rupiah ke depan. ***

