Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Didongkrak Ketegangan AS–China dan Optimisme IMF

Date:

DCNews, Jakarta — Harga emas dunia kembali menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Selasa (14/10/2025) waktu New York, di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta sentimen positif dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan pernyataan optimistis Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Kenaikan harga logam mulia ini menegaskan tren reli delapan minggu berturut-turut, mencerminkan derasnya arus dana investor ke aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik dan moneter global.

Harga emas spot ditutup naik 0,75% menjadi US$4.140,97 per ons, sementara emas berjangka AS naik 0,77% ke US$4.140,20 per ons. Pada perdagangan Rabu pagi (15/10/2025) pukul 05.21 WIB, harga emas kembali menanjak 0,45% ke US$4.161,52 per ons, menandai posisi tertinggi baru dalam sejarah perdagangan logam mulia.

Masih Berpotensi Berlanjut

Para analis Goldman Sachs menilai reli emas masih berpotensi berlanjut, meski menghadapi risiko koreksi jika arus investasi mulai melambat. Mereka mencatat, lonjakan harga saat ini didorong oleh pembelian besar-besaran dari bank sentral, peningkatan kepemilikan di reksa dana berbasis emas, serta ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada kuartal mendatang.

“Sepertinya tidak ada alasan kuat untuk melawan tren emas dan perak,” ujar investor asal Singapura, Shyam Devani, dikutip dari Bloomberg. Kondisi fiskal yang lemah dan kebijakan moneter yang tidak pasti akan terus menopang harga logam mulia,” sebut ujar investor asal Singapura, Shyam Devani.

Menurut data pasar, empat logam mulia utama telah naik antara 57% hingga 82% sepanjang tahun ini, memperkuat sinyal bahwa reli harga komoditas masih mendominasi peta ekonomi global.

Sementara itu, pasar saham Amerika ditutup bervariasi setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal kemungkinan mengakhiri sebagian hubungan dagang dengan Beijing. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,44% menjadi 46.270,46, sedangkan S&P 500 turun 0,16% ke 6.644,31 dan Nasdaq melemah 0,76% ke 22.521,70.

Dalam pidatonya, Jerome Powell menegaskan bahwa ekonomi AS masih berada di jalur pertumbuhan yang “lebih kuat dari perkiraan,” namun mengingatkan tidak ada kebijakan moneter yang sepenuhnya bebas risiko di tengah tarik menarik antara target inflasi dan ketenagakerjaan.

Laporan IMF

Laporan IMF turut memperkuat nada optimistis dengan menaikkan proyeksi pertumbuhan global. Lembaga tersebut menilai dampak perang dagang dan kondisi keuangan global lebih ringan dari perkiraan, meski tetap memperingatkan potensi hambatan signifikan bila konflik tarif antara dua ekonomi terbesar dunia terus meningkat.

“Pasar kini mendengarkan dua hal sekaligus: retorika perang dagang dan fundamental ekonomi,” kata Peter Cardillo, Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities di New York.

Di sisi lain, harga minyak mentah WTI turun 1,33% menjadi US$58,70 per barel, sedangkan Brent terkoreksi 1,47% ke US$62,39 per barel. Nilai tukar dolar AS melemah 0,26% ke level 99,04 terhadap sekeranjang mata uang utama, sementara euro menguat 0,31% menjadi US$1,1604 dan yen Jepang naik 0,37% ke 151,71 per dolar AS. Peningkatan risiko geopolitik mendorong franc Swiss dan yen menguat sebagai aset lindung nilai.

Musim laporan keuangan kuartal ketiga di Wall Street juga dimulai positif, dengan hasil kuat dari bank-bank besar seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo.

“Jika kinerja bank menjadi acuan, musim laporan keuangan ini berpotensi kuat. Oni menegaskan posisi pasar yang sempat mencapai rekor tertinggi,” kata Cardillo.

Ketegangan Dagang AS-China

Di Eropa, ketegangan dagang AS–China menekan kinerja bursa. Indeks STOXX 600 pan-Eropa turun 0,37%, FTSEurofirst 300 melemah 0,33%, dan MSCI global terkoreksi 0,25% ke 978,64. Ketegangan meningkat setelah Beijing memperketat ekspor tanah jarang dan Washington mengancam menaikkan tarif impor hingga tiga digit. Situasi ini mempertegas ketidakpastian arah ekonomi dunia di tengah transisi kebijakan moneter global.

Pada perdagangan Rabu pagi pukul 06.13 WIB, harga emas tetap bertahan di zona hijau di level US$4.159,83 per troy ounce, menguat 0,41% atau naik US$16,89 dibandingkan penutupan sebelumnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Puan Buka Masa Sidang DPR, Tekankan Mitigasi Bencana dan Penerapan KUHP Baru

DCNews, Jakarta — Ketua DPR RI Puan Maharani membuka Masa...

Pemerintah Blokir Sementara Grok di Platform X, DPR Desak Moderasi Ketat Konten AI

DCNews, Jakarta — Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan...

Fahri Hamzah Buka Dapur Kekuasaan: Dari DPR ke Eksekutif, Prabowo Dinilai Presiden Paling Mandiri

DCNews, Jakarta — Perpindahan Fahri Hamzah dari dunia parlemen...

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik Kompak, Galeri24 dan UBS Melonjak hingga Rp65 Ribu per Gram

DCNews, Jakarta — Harga emas yang diperdagangkan di Pegadaian...