DCNews, Jakarta – Tren pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) atau cicilan tanpa kartu kredit terus menunjukkan lonjakan tajam di Indonesia. Berdasarkan laporan terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total baki debet BNPL dari sektor perbankan dan perusahaan pembiayaan per Agustus 2025 telah menembus Rp34 triliun, menandai peningkatan signifikan dalam lanskap keuangan digital nasional.
OJK mencatat, porsi BNPL di sektor perbankan mencapai 0,30 persen dari total kredit perbankan, dengan pertumbuhan 32,35 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp24,33 triliun. Jumlah rekening BNPL yang tercatat pun melonjak menjadi 29,33 juta rekening, menunjukkan penetrasi produk pembiayaan instan yang semakin luas di masyarakat.
Di sisi lain, pembiayaan BNPL oleh perusahaan multifinance juga melesat. Berdasarkan data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), pembiayaan BNPL tumbuh 79,91 persen yoy menjadi Rp9,97 triliun, dengan rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF gross) sebesar 2,92 persen.
“OJK berharap penegakan kepatuhan dan pengenaan sanksi dapat mendorong pelaku industri meningkatkan tata kelola dan kehati-hatian, sehingga sektor pembiayaan dapat berkontribusi optimal terhadap stabilitas ekonomi,” tulis OJK dalam keterangan resmi, Sabtu (11/10/2025).
Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga Stabil
Selain kenaikan tajam di sektor BNPL, OJK juga melaporkan pertumbuhan positif pada kredit perbankan nasional. Per Agustus 2025, total kredit perbankan naik 7,56 persen yoy menjadi Rp8.075 triliun, ditopang oleh kredit konsumsi (7,89 persen), kredit investasi (7,70 persen), dan kredit modal kerja (7,31 persen).
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 8,51 persen yoy menjadi Rp9.385,8 triliun, dengan komposisi tabungan, giro, dan deposito yang relatif seimbang.
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL gross) tercatat 2,28 persen, sedangkan NPL net sebesar 0,87 persen. Sementara itu, Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan mencapai 26,03 persen, menandakan buffer modal yang tetap kuat di tengah ekspansi pembiayaan.
“OJK terus memperkuat pengawasan dan kebijakan prudensial agar perbankan tetap sehat dan mampu menopang perekonomian nasional,” tulis lembaga tersebut.
Industri Keuangan Nonbank Ikut Menguat
Kinerja sektor Perusahaan Pembiayaan, Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) juga mencatat pertumbuhan solid.
Outstanding pembiayaan di industri pinjaman daring (Pindar) naik 21,62 persen yoy menjadi Rp87,61 triliun, dengan tingkat wanprestasi (TWP90) di 2,60 persen.
Sementara itu, industri pergadaian tumbuh 28,67 persen yoy dengan total pembiayaan mencapai Rp108,30 triliun. Di sisi lain, industri modal ventura juga mencatatkan kenaikan, dengan outstanding pembiayaan Rp20,89 triliun atau naik 8,47 persen yoy.
Tren positif di seluruh sektor pembiayaan ini menegaskan bahwa industri keuangan nasional terus ekspansif, meski otoritas tetap menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko kredit di tengah meningkatnya permintaan pembiayaan konsumtif seperti BNPL. ***

