DCNews, Jakarta — Kelas menengah Indonesia kini tidak lagi menjadi motor pertumbuhan ekonomi, melainkan tengah berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai lonjakan tajam industri pinjaman online (pinjol) dan praktik gadai menjadi bukti nyata tekanan ekonomi yang dialami kelompok ini.
“Outstanding pinjol naik 651% dalam lima tahun terakhir, sementara praktik gadai meningkat 66%. Banyak yang menjual atau menggadaikan aset karena gaji tidak cukup. Kalau tidak ke pegadaian, ya ke pinjol — se-desperate itu kelas menengah,” kata Bhima dalam keterangan tertulis, Rabu (8/10/2025).
Bhima menjelaskan, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kelas menengah kini tidak sedang berkembang, tetapi justru berusaha mempertahankan kestabilan ekonomi rumah tangganya di tengah tekanan harga dan cicilan yang terus meningkat.
Ia memperingatkan, pelemahan daya beli kelas menengah dapat memicu efek domino yang luas terhadap perekonomian nasional. Sebab, kelompok ini selama ini menjadi penggerak utama konsumsi domestik dan penyumbang terbesar penerimaan pajak negara.
“Kelas menengah yang melemah berarti konsumsi nasional akan ikut melambat. Ini sinyal bahaya yang harus segera dijawab dengan kebijakan fiskal yang berpihak pada daya beli masyarakat,” tegas Bhima. ***

