Danantara Suntik Rp1,5 Triliun ke ID FOOD untuk Serap Gula Petani, APTRI Desak Pembayaran Dipercepat

Date:

DCnews, Jakarta – PT Danantara Asset Management (Persero) menyalurkan pendanaan senilai Rp1,5 triliun kepada ID FOOD Group melalui skema shareholders loan. Dana tersebut diproyeksikan untuk menyerap produksi gula petani tebu rakyat, sebagai bagian dari upaya memperkuat stok Cadangan Gula Pemerintah (CGP).

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut pendanaan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah hadir membantu petani. “Terima kasih kepada Bapak Rosan Roeslani dan Bapak Doni Oskaria dari Danantara yang sudah memberikan financing kepada ID FOOD untuk menyerap gula petani. Ini sesuai harapan Bapak Presiden Prabowo untuk selalu membantu para petani kita,” ujar Kepala Bapanas, Rabu (3/9/2025).

Pendanaan ini berbeda dengan skema sebelumnya yang mengandalkan Penyertaan Modal Negara (PMN). Dengan pola B2B, ID FOOD wajib mengembalikan dana pinjaman kepada Danantara. Dana tersebut mulai digelontorkan pada akhir Agustus 2025, menindaklanjuti surat Bapanas kepada Menteri BUMN tertanggal 14 Agustus mengenai penguatan stok gula nasional.

Target Stok Gula Masih Jauh dari Capaian

Berdasarkan Keputusan Kepala Bapanas Nomor 40 Tahun 2025, target stok minimal CGP ditetapkan 260 ribu ton dengan stok akhir 2025 di angka 26 ribu ton. Namun per 1 September, stok yang tercatat baru 170 ribu ton di gudang ID FOOD dan Bulog.

Sementara realisasi serapan gula petani hingga 29 Agustus baru 49,9 ribu ton, dengan rincian ID FOOD 21,5 ribu ton, asosiasi pedagang 21,59 ribu ton, dan SGN 6,9 ribu ton. Masih ada sekitar 31,9 ribu ton yang belum terserap dan akan dilakukan secara bertahap melalui lelang mingguan.

Petani Desak Pembayaran

Meski suntikan dana telah diumumkan, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai pembayaran kepada petani masih tersendat. Sekretaris Jenderal APTRI, M Nur Khabsyin, mengungkapkan proses pembelian gula masih terhambat administrasi.

“Kami mohon pembayaran ke petani secepatnya. Sampai sekarang belum ada pembayaran, padahal petani sudah menunggu dua bulan,” kata Khabsyin saat Seminar Ekosistem Gula Nasional, Rabu (27/8/2025).

APTRI mencatat masih ada sekitar 100 ribu ton gula petani menumpuk di gudang. Mereka juga mendesak agar Danantara tidak hanya membeli dari tujuh pabrik tertentu, melainkan juga menyerap gula dari pabrik BUMN maupun swasta.

“Jangan dibeda-bedakan. Swasta juga ada yang belum laku dan itu perlu diserap,” tegas Khabsyin. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Senator Graal Dorong “Politik Gagasan” untuk Atasi Krisis Demokrasi di Indonesia

DCNews, Ternate — Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kualitas demokrasi...

KPPU Denda 97 Fintech Rp 755 Miliar, Amartha Ajukan Banding Sengketa Suku Bunga Pinjol

DCNews, Jakarta — Sengketa besar mengguncang industri pinjaman online Indonesia...

Modus Baru Debt Collector: Pesan Ambulans Fiktif untuk Tagih Utang, Sopir di Jakarta Jadi Korban

DCNews, Jakarta — Panggilan darurat yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru...

Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswa FH UI, Habiburokhman: Jangan Berhenti di Forum Kampus

DCNews, Jakarta — Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman...