DCNews, Teheran – Di tengah meningkatnya ketegangan regional dan kekhawatiran keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik yang memburuk, pemerintah Iran memutus total akses internet dan jaringan telepon nasional. Langkah ekstrem ini disebut sebagai bentuk pertahanan terhadap kemungkinan serangan siber besar-besaran dari Israel.
Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran menyebut pemutusan jaringan sebagai “tindakan sementara yang diperlukan,” merujuk pada upaya musuh yang disebut “penyalahgunaan infrastruktur komunikasi nasional.” Pernyataan resmi ini disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Tasnim, dikutip DCNews, Jumat (20/6/2025).
Pemadaman yang diberlakukan sejak sore hari itu memutus sambungan telepon seluler dan jaringan telepon rumah dari dan ke luar negeri. Meski beberapa layanan domestik masih bisa diakses terbatas, tidak ada keterangan rinci soal cakupan dan durasi pemblokiran. Warga hanya dapat melakukan panggilan lokal secara terbatas.
“Ini seperti tombol pemutus total. Tidak sering terjadi,” ujar Alp Toker, Direktur NetBlocks, lembaga pemantau internet global berbasis di London.
Ia membandingkan pemadaman ini dengan insiden serupa pada 2019 saat unjuk rasa anti-pemerintah meluas di seluruh Iran. “Dampaknya bukan hanya politis, tapi juga sangat personal —komunikasi antarindividu terputus total,” tambah Alp Toker.
Ketegangan antara Iran dan Israel melonjak drastis akhir pekan lalu ketika Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target strategis di Teheran dan kota lainnya. Serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer Iran dan memicu gelombang kemarahan nasional. Pemerintah Iran bahkan memperingatkan warga untuk menghapus aplikasi WhatsApp, yang dituding terlibat dalam kebocoran data pengguna ke pihak Israel — meski WhatsApp membantah tegas tuduhan tersebut.
“Ini adalah laporan palsu. Pemerintah Iran tampaknya sedang mencari dalih untuk membatasi komunikasi rakyatnya, justru di saat mereka sangat membutuhkannya,” ujar perwakilan WhatsApp, seperti dikutip Associated Press.
Sementara itu, kelompok peretas pro-Israel mengklaim telah meretas salah satu bank terbesar di Iran, disusul laporan IRIB News —media pemerintah Iran— yang menyebut adanya serangan siber skala penuh terhadap infrastruktur penting negara. Iran menanggapi serangan tersebut dengan membalas melalui peluncuran ratusan rudal balistik ke wilayah Israel, termasuk ke jantung kota Tel Aviv.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa sedikitnya 224 orang, sebagian besar warga sipil, telah tewas akibat gempuran Israel. Namun, angka yang dirilis Lembaga Jaringan Aktivis HAM di Oslo menyebut jumlah korban bisa mencapai 639 orang. Di pihak Israel, korban jiwa tercatat sebanyak 24 orang, mayoritas juga warga sipil.
Meski koneksi internet internasional diblokir, media resmi dan semi-resmi Iran tetap aktif melalui aplikasi Telegram, yang dinilai lebih netral karena tidak berbasis di Amerika Serikat. Elon Musk turut menyoroti situasi ini dengan menyatakan pada 14 Juni bahwa layanan satelit Starlink “telah aktif” di Iran —memicu spekulasi lebih lanjut soal jalur komunikasi alternatif yang bisa dimanfaatkan warga Iran dan aktor asing.
Di tengah kabut sensor dan serangan siber yang kian intensif, warga Iran kini menghadapi ketidakpastian yang semakin pekat: apakah koneksi akan pulih dalam waktu dekat atau justru menjadi bagian dari normal baru di medan konflik digital yang terus meluas. ***

