DCNews, Jakarta — Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali melemah pada perdagangan Sabtu (20/6/2026), melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung sejak 18 Juni. Berdasarkan data terbaru dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam turun Rp5.000 menjadi Rp2.668.000 per gram dari sebelumnya Rp2.673.000 per gram.
Penurunan juga terjadi pada harga pembelian kembali (buyback) yang kini berada di level Rp2.401.000 per gram. Pergerakan harga tersebut menjadi perhatian pelaku pasar dan investor yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Harga emas Antam diketahui dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan harga emas dunia, nilai tukar rupiah, serta dinamika permintaan dan penawaran di pasar domestik.
Berdasarkan data Logam Mulia, berikut rincian harga emas Antam per Sabtu pagi:
- 0,5 gram: Rp1.384.000
- 1 gram: Rp2.668.000
- 2 gram: Rp5.276.000
- 3 gram: Rp7.889.000
- 5 gram: Rp13.115.000
- 10 gram: Rp26.175.000
- 25 gram: Rp65.312.000
- 50 gram: Rp130.545.000
- 100 gram: Rp261.012.000
- 250 gram: Rp652.265.000
- 500 gram: Rp1.304.320.000
- 1.000 gram (1 kilogram): Rp2.608.600.000
Dalam setiap transaksi emas batangan, pemerintah mengenakan ketentuan perpajakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017. Untuk pembelian emas batangan, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 0,9 persen bagi non-NPWP.
Sementara itu, penjualan kembali (buyback) emas batangan kepada PT Antam Tbk dengan nilai transaksi di atas Rp10 juta dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi wajib pajak yang memiliki NPWP dan 3 persen bagi yang tidak memiliki NPWP. Pajak tersebut dipotong langsung dari nilai transaksi buyback yang diterima nasabah.
Analisis Dahlan Consultant: Penurunan Harga Emas, Momentum Lakukan Akumulasi
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan yang akrab disapa Kang Dahlan, menilai koreksi harga emas saat ini belum tentu mencerminkan melemahnya prospek logam mulia dalam jangka panjang. Menurutnya, investor justru perlu melihat penurunan harga sebagai momentum untuk melakukan akumulasi secara bertahap, terutama bagi mereka yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang.
“Fluktuasi harga emas merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral hingga kondisi geopolitik. Bagi investor jangka panjang, penurunan harga seperti saat ini dapat menjadi kesempatan untuk menambah kepemilikan emas dengan strategi bertahap dan terukur,” ujar Kang Dahlan.
Ia menambahkan bahwa emas tetap menjadi salah satu instrumen yang relevan untuk diversifikasi portofolio dan menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, investor tetap perlu menyesuaikan porsi investasi emas dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing agar keputusan investasi tetap optimal. ***

