DCNews, Makassar — Tingkat pemahaman keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang 2025. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat literasi keuangan kelompok muda mencapai 61,76 persen, meningkat dari 56,42 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, literasi keuangan syariah mengalami lonjakan lebih tajam, dari 30,17 persen menjadi 40,49 persen.
Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya membangun generasi muda yang lebih siap mengelola keuangan di tengah berkembangnya berbagai produk dan layanan jasa keuangan. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai capaian itu perlu diikuti dengan penguatan edukasi secara berkelanjutan agar pemahaman masyarakat tidak hanya berhenti pada angka statistik.
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), Muchlasin, mengatakan peningkatan literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan modal penting untuk membentuk perilaku keuangan yang sehat sejak dini.
“Pemahaman keuangan yang baik sejak usia sekolah hingga perguruan tinggi merupakan bekal penting bagi generasi muda dalam merencanakan masa depan. Upaya edukasi yang berkelanjutan masih sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai manfaat, risiko, hak, dan kewajiban produk jasa keuangan,” kata Muchlasin, kepada wartawan di Makassar, Kamis kemarin (18/6/2026).
Menurut dia, semakin tingginya literasi keuangan akan membantu generasi muda membuat keputusan finansial yang lebih bijak, termasuk dalam mengelola tabungan, investasi, pembiayaan, hingga memahami berbagai risiko yang melekat pada produk keuangan.
Sebagai tindak lanjut atas hasil survei tersebut, OJK Sulselbar menggelar rangkaian program edukasi keuangan di sejumlah wilayah di Sulawesi Barat. Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Juni 2026 itu menjangkau sekitar 370 pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah, dan Majene.
Program tersebut dirancang untuk memperluas akses informasi keuangan sekaligus meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai pengelolaan keuangan pribadi, pemanfaatan layanan keuangan formal, serta pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan dan investasi ilegal.
Melalui kegiatan edukasi yang menyasar sekolah dan perguruan tinggi, OJK berharap tren peningkatan literasi keuangan nasional dapat diterjemahkan menjadi perubahan perilaku yang nyata di masyarakat. Langkah itu dinilai penting untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya memahami produk keuangan, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab guna mendukung kesejahteraan finansial di masa depan. ***

