DCNews, Jakarta — Di tengah klaim pemerintah bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional, para ekonom justru melihat gejala yang lebih mengkhawatirkan: daya beli masyarakat bertahan bukan karena pendapatan yang membaik, melainkan karena ketergantungan pada utang konsumtif, mulai dari pinjaman online hingga kartu kredit.
Fenomena tersebut mengemuka dalam diskusi yang disiarkan melalui kanal YouTube Anies Baswedan, dikutip DCNews, Jumat (29/5/2026). Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky menyebut lonjakan pembiayaan digital menjadi indikator bahwa sebagian masyarakat kini menopang kebutuhan sehari-hari dengan skema utang jangka pendek yang berisiko tinggi.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Yanuar menyampaikan outstanding pinjaman online legal telah mencapai Rp103 triliun dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 5 persen. Angka tersebut melonjak tajam dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Volumenya naik berkali-kali dari Rp30 triliun ke Rp103 triliun, NPL-nya juga naik,” kata Yanuar.
Menurut dia, kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba. Gejala pelemahan daya tahan finansial masyarakat bawah sudah mulai terlihat sejak 2019, bahkan sebelum pandemi Covid-19 melanda. Ketika kebijakan moneter Amerika Serikat mulai mengetat, tabungan kelompok berpenghasilan rendah perlahan terkikis dan masyarakat semakin bergantung pada akses pembiayaan cepat.
Tekanan tersebut, lanjut Yanuar, mencapai titik yang lebih serius pada 2023 ketika kasus penagihan agresif pinjaman online mulai marak dan memicu keresahan publik.
Ekonom Vid Adrison menyebut situasi tersebut sebagai “masalah yang ditunda”, ketika masyarakat mempertahankan konsumsi dengan utang sambil menahan tekanan ekonomi yang terus menumpuk di bawah permukaan.
Ia menilai sebagian besar masyarakat justru membutuhkan edukasi mengenai pengelolaan keuangan dasar, bukan dorongan untuk mengambil risiko investasi di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Tidak semua masyarakat main saham. Panduan yang dibutuhkan sebagian besar adalah: hemat, jangan ambil pinjol, jangan ambil kartu kredit,” ujar Vid.
Sementara itu, ekonom Awalil Rizky mengingatkan bahwa tekanan ekonomi berkepanjangan dapat berdampak pada stabilitas sosial. Ia menyoroti meningkatnya kasus kriminalitas jalanan dan aksi kekerasan yang ramai diperbincangkan di media sosial sebagai sinyal memburuknya kondisi ekonomi kelompok masyarakat bawah.
Menurut Awalil, ketika tekanan ekonomi tidak diimbangi perlindungan sosial dan kesempatan kerja yang memadai, rasa frustrasi dapat berubah menjadi tindakan kriminal akibat desakan kebutuhan hidup.
Para ekonom menilai pemerintah perlu lebih jujur membaca kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh di atas permukaan, kata mereka, belum tentu mencerminkan kesehatan ekonomi masyarakat apabila sebagian besar ditopang oleh pembiayaan utang konsumtif. ***

