DCNews, Tangerang — Ledakan penggunaan layanan keuangan digital di kalangan generasi muda mendorong kekhawatiran baru terkait rendahnya pemahaman finansial mahasiswa terhadap risiko utang, investasi digital, hingga penipuan online. Di tengah tren transaksi cashless yang semakin masif, kalangan kampus dan regulator menilai literasi keuangan harus diperkuat agar generasi muda tidak terjebak budaya konsumtif dan jebakan finansial di era digital.
Fenomena tersebut mengemuka dalam seminar literasi keuangan bertajuk Cashless, Careless: Jadi Mahasiswa Cerdas Finansial di Era Digital yang digelar di Binus @Alam Sutera, Tangerang. Kegiatan ini didukung PT Dupoin Futures, ShopeePay Indonesia, dan Bank Mandiri sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi finansial di lingkungan mahasiswa.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi finansial, mahasiswa kini hidup dalam ekosistem transaksi serba instan, mulai dari e-wallet, paylater, pinjaman online, hingga investasi aset digital. Namun, kemudahan akses tersebut dinilai belum sepenuhnya dibarengi kemampuan memahami risiko dan pengelolaan keuangan yang sehat.
CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi mengatakan tingginya adopsi layanan keuangan digital di kalangan anak muda perlu diimbangi edukasi finansial yang lebih kuat. Menurutnya, generasi muda saat ini sangat adaptif terhadap teknologi, tetapi masih rentan terhadap perilaku konsumtif dan pengambilan keputusan finansial yang impulsif.
“Banyak anak muda sudah aktif menggunakan teknologi dan berinvestasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang cukup tentang risiko dan cara mengelolanya. Hal ini membuat mereka adaptif terhadap teknologi, tetapi juga rentan terhadap perilaku konsumtif, lemahnya kontrol keuangan, dan jebakan utang,” ujarnya.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan tingkat inklusi keuangan telah menembus 80,51 persen. Pada kelompok usia 18 hingga 25 tahun, tingkat literasi tercatat sebesar 73,22 persen dengan inklusi mencapai 89,96 persen.
Meski angka inklusi terus meningkat, kesenjangan antara penggunaan layanan keuangan dan pemahaman terhadap produk masih menjadi perhatian. Sekitar 60 persen generasi muda tercatat telah berinvestasi pada aset digital dan hampir 68 persen aktif menggunakan dompet digital.
Ia juga menyoroti dominasi generasi muda dalam pasar investasi domestik. Investor pasar modal Indonesia saat ini didominasi investor lokal hingga 99,78 persen, dengan mayoritas berusia di bawah 30 tahun. Sementara jumlah investor aset kripto nasional telah melampaui 21 juta orang.
Namun di balik tingginya partisipasi tersebut, budaya YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) dinilai memperburuk perilaku konsumtif generasi muda, termasuk penggunaan utang untuk memenuhi gaya hidup.
“Kondisi ini diperparah oleh budaya YOLO dan FOMO yang mendorong pengeluaran berlebih, bahkan melalui utang konsumtif, sehingga tingkat utang generasi muda di sektor fintech menjadi relatif lebih tinggi,” katanya.
Direktur Departemen Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan, Andi Muhammad Yusuf, mengatakan percepatan digitalisasi telah membentuk masyarakat cashless, tetapi juga memunculkan tantangan baru dalam perlindungan konsumen dan pemahaman produk keuangan.
Menurut dia, tingginya tingkat inklusi keuangan belum sepenuhnya dibarengi literasi yang memadai, sehingga banyak masyarakat menggunakan layanan keuangan tanpa memahami risiko maupun mekanisme produk yang dipakai.
“Orang memakai produk keuangan tapi tidak paham apa yang dipakai. Ini mengandung kerawanan, termasuk meningkatnya pengaduan dan potensi kejahatan keuangan digital,” tegasnya.
Ia mengungkapkan nilai kerugian akibat kejahatan keuangan digital berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencapai sekitar Rp9,1 triliun sepanjang November 2024 hingga Januari 2026. Rendahnya literasi keuangan disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus penipuan dan penyalahgunaan layanan finansial digital.
Karena itu, OJK terus memperluas program edukasi melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) dengan melibatkan industri jasa keuangan dan institusi pendidikan.
“Literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi harus berdampak pada kesejahteraan. Individu yang memahami cara mengelola keuangan cenderung lebih stabil secara finansial dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Direktur Kampus Binus @Alam Sutera, Lim Sanny, menilai penguatan literasi keuangan di lingkungan mahasiswa menjadi semakin penting di tengah percepatan transformasi digital sektor keuangan. Menurutnya, kemudahan transaksi yang ditawarkan teknologi harus dibarengi kemampuan mengelola keuangan secara bijak.
“Seiring dengan kemajuan teknologi, transaksi menjadi lebih mudah dan cepat. Namun di balik kenyamanan itu, kita harus tetap bijak dalam mengelola keuangan agar tidak terjebak dalam sikap careless,” katanya.
Ia menambahkan institusi pendidikan memiliki tanggung jawab bukan hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga menghadirkan pengalaman praktis melalui kolaborasi dengan pelaku industri agar mahasiswa memahami peluang dan risiko dalam ekosistem keuangan digital secara lebih komprehensif.
Sementara itu, Direktur Utama ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari, mengatakan pembayaran digital kini telah menjadi kebutuhan utama mahasiswa dengan mobilitas dan intensitas transaksi yang tinggi. Menurutnya, aspek keamanan menjadi prioritas dalam pengembangan layanan pembayaran digital.
Ia menjelaskan layanan ShopeePay kini dilengkapi sejumlah sistem perlindungan seperti PIN, OTP, fitur two-factor authentication (2FA), serta verifikasi pengguna melalui ShopeePay Plus.
“Tambahan layer dari sisi keamanan itu untuk memastikan bahwa memang orang yang sama ataupun user yang sama yang menggunakan aplikasi tersebut,” jelasnya.
Selain e-wallet, perkembangan investasi aset kripto juga menjadi perhatian dalam seminar tersebut. Direktur CFX, Lukas Lauw, mengatakan Indonesia kini berada di peringkat ketujuh dunia dalam tingkat adopsi aset kripto, dengan sekitar 52 persen investor berasal dari kelompok usia 18 hingga 24 tahun.
“Proporsi yang bertransaksi di aset kripto itu di usia 18 sampai 24 tahun sekitar 50 persen. Jadi ini memang didominasi oleh usia mahasiswa,” ujarnya.
Meski demikian, transaksi kripto sempat mengalami perlambatan akibat koreksi pasar. Nilai transaksi aset kripto tercatat sekitar Rp75,8 triliun sepanjang Januari hingga Maret 2026, mencerminkan tingginya sensitivitas investor ritel terhadap fluktuasi harga.
Lukas mengingatkan pentingnya penggunaan platform legal yang berada di bawah pengawasan regulator guna meminimalkan risiko kehilangan dana maupun aset digital.
“Literasi harus lebih tinggi dari inklusi. Masyarakat tidak hanya menggunakan, tetapi juga harus memahami produk yang digunakan,” tegasnya.
Pentingnya Pemahaman Instrumen Investasi
Presiden Direktur Dupoin Futures Indonesia, Gunawan Herman, turut menyoroti pentingnya pemahaman instrumen investasi yang lebih luas di kalangan generasi muda. Menurutnya, mahasiswa selama ini lebih mengenal saham dan kripto, padahal pasar global juga mencakup instrumen seperti forex, emas, dan indeks dengan skala transaksi yang jauh lebih besar.
“Kalau kita bicara trading, bayangan kita pasti saham dan kripto karena dua hal itu paling populer sekarang. Padahal market global itu jauh lebih besar, seperti forex, emas, dan indeks yang transaksinya melibatkan seluruh dunia,” tuturnya.
Ia menjelaskan perdagangan berjangka memungkinkan investor memperoleh peluang keuntungan saat harga naik maupun turun karena sistemnya berbasis kontrak. Namun, potensi keuntungan tinggi tersebut juga disertai risiko besar.
“Dengan modal relatif kecil, kita bisa mengakses nilai transaksi yang jauh lebih besar. Tapi ini juga berarti high risk, high gain. Selain itu, pergerakan harga di pasar juga mencerminkan kondisi ekonomi dunia. Jadi ketika belajar trading, sebenarnya kita juga belajar membaca arah ekonomi global,” katanya.
Seminar tersebut menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut adaptif terhadap perkembangan teknologi finansial, tetapi juga harus mampu memahami risiko, mengelola keuangan secara sehat, dan memilih instrumen investasi yang aman di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi. ***

