DCNews, Jakarta— Meningkatnya kasus guru dan pelajar yang terjerat judi online (judol) serta pinjaman online (pinjol) memunculkan kekhawatiran baru di dunia pendidikan. Rendahnya literasi keuangan dinilai bukan lagi sekadar persoalan kemampuan mengatur uang, melainkan telah berkembang menjadi ancaman sosial yang memengaruhi karakter, perilaku, hingga mendorong tindak kriminal di lingkungan pendidikan.
Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru Muhammad Mukhlisin mengatakan, lemahnya pemahaman keuangan di kalangan guru dan siswa telah memicu berbagai persoalan serius. Mulai dari keterlibatan dalam judi online, ketergantungan pinjaman daring, hingga kasus penggelapan dan tindak kriminal lain akibat tekanan ekonomi.
Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mukhlisin menyebut sekitar 42 persen peminjam online berasal dari kalangan guru. Menurut dia, angka tersebut menjadi alarm bahwa literasi keuangan di lingkungan pendidikan masih sangat rendah.
“Ini menjadi tanda bahwa literasi keuangan perlu diperkuat secara serius di lingkungan pendidikan. Kita juga melihat berbagai kasus yang memprihatinkan, mulai dari guru yang terjerat pinjaman online hingga pelajar yang terpapar judi online,” ujar Mukhlisin.
Fenomena tersebut, kata dia, tidak lagi berdampak secara individual, tetapi mulai mengganggu ekosistem pendidikan. Sejumlah kasus yang mencuat memperlihatkan tekanan finansial akibat pinjol dan judol dapat mendorong perilaku menyimpang.
Di Sumatera Selatan, misalnya, seorang guru sekolah dasar di Ogan Ilir diduga menggelapkan tabungan siswa lebih dari Rp100 juta untuk membayar utang pinjaman online. Kasus serupa juga terjadi di Indralaya Utara, ketika seorang guru SD diduga menggunakan uang tabungan siswa senilai Rp95 juta untuk kebutuhan pribadi dan melunasi utang pinjol.
Sementara di Jakarta, seorang guru Sosiologi SMA dilaporkan menggadaikan laptop milik siswa akibat tekanan ekonomi yang berkaitan dengan pinjaman online.
Dampak rendahnya literasi keuangan juga mulai menyasar pelajar dan mahasiswa. Seorang siswa SMP di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, diketahui bolos sekolah selama satu bulan karena malu terlilit utang akibat judi online dan pinjaman daring. Di Cianjur, seorang mahasiswa bahkan ditangkap polisi karena mengedarkan ganja dengan motif membayar utang judol dan pinjol.
Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Bareskrim Polri menunjukkan, pada awal 2025 terdapat 16 pelajar dan mahasiswa yang menjadi terlapor kasus perjudian online maupun offline. Sementara data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat, pada kuartal pertama 2025, pemain judi online usia 10–16 tahun menyetorkan dana lebih dari Rp2,2 miliar. Adapun kelompok usia 17–19 tahun mencapai Rp47,9 miliar.
Di tengah meningkatnya persoalan tersebut, Yayasan Cahaya Guru mencoba menghadirkan pendekatan baru dalam pendidikan literasi keuangan melalui media permainan edukatif.
Mukhlisin mengatakan, pihaknya mengembangkan board game bernama “CUAN” atau Cara Untung Atur Uang yang ditujukan bagi guru dan pelajar tingkat SMA/SMK/MA. Permainan edukatif itu dirancang untuk membantu generasi muda memahami pengelolaan keuangan, risiko utang, investasi, hingga bahaya judi online dengan metode yang lebih interaktif.
Peluncuran board game CUAN dijadwalkan berlangsung pada 23 Mei 2026 di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurut Mukhlisin, pengembangan permainan tersebut dilakukan selama sekitar lima bulan melalui kolaborasi antara Yayasan Cahaya Guru, PT Insight Investments Management, dan Apparo Game.
“Literasi keuangan tidak cukup hanya diajarkan melalui ceramah atau teori. Anak muda perlu pendekatan yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan keseharian mereka. Karena itu, board game ini kami hadirkan sebagai media belajar yang lebih relevan,” katanya.
Selain menjadi media pembelajaran, permainan itu juga diharapkan mampu memperkuat interaksi sosial dan melatih kemampuan berpikir strategis para pelajar di tengah tingginya ketergantungan terhadap gawai.
“Yang paling penting melepaskan diri sejenak dari ketergantungan gawai,” ujar Mukhlisin.
Program peningkatan literasi keuangan berbasis komunitas sebelumnya juga dilakukan di berbagai daerah. Salah satunya melalui program pemberdayaan perempuan di Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat, yang memberikan pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan bagi istri petani kopi dan perempuan muda di komunitas kopi.
Program bertajuk Brewing Change: Women Empowerment in Coffee Origin Communities in Indonesia (BENTANI) itu dijalankan oleh Mercy Corps Indonesia dengan dukungan Starbucks Foundation.
Setelah peluncuran board game CUAN, para guru peserta nantinya akan menerapkan metode pembelajaran tersebut di sekolah masing-masing sebagai bagian dari edukasi literasi keuangan yang lebih kontekstual dan partisipatif.
Mukhlisin berharap permainan edukatif itu dapat diperluas ke lebih banyak sekolah dan komunitas pendidikan di Indonesia melalui kerja sama dengan pemerintah maupun sektor swasta.
“Kami berharap permainan ini dapat disebarluaskan ke lebih banyak sekolah dan komunitas pendidikan. Kami juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah dan sektor swasta untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan literasi keuangan yang lebih kuat dan inklusif,” kata Mukhlisin. ***

